Pengalaman-Saya

Intelektualitas dan Bus P2


23 Mei 2006

Akhirnya saya mulai mendapatkan waktu untuk menuliskan catatan harian elektronik ini. Sejak akhir januari saya sudah mulai turun ke lapangan, wawancara dan transkrip, sangat melelahkan dan tulang belakang capek duduk lama. Seharian itu kerjaan saya, selama sebulan sampai akhir februari, hanya membuat transkrip, mencetak, dan menyusunnya dalam folder. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan membuat padatan faktual alias pengkodean awal, melihat bagian yang penting dan berhubungan satu sama lain. Saya dikasih tahu Bu Kristi cara membuatnya, setelah itu pengkodean tahap lanjut, muncul kategori yang ditulis di bab tiga. Setelah itu ya dianalisis untuk bab 4 dan analisis itu sangat intens dan melelahkan. Beneran.

Bu Karlina begitu antusias sampai menambahkan begitu banyak hal. Perbaikannya cukup banyak dan bikin saya kewalahan. Hari Jum’at, minggu kedua Mei, saya maju untuk presentasi kedua, untung aja Bu Kristi menawarkan untuk maju cepat. Setelah itu, saya dapat masukan lagi untuk sampai ke bab 5. Oke, Sabtu dan Minggu saya sepertinya nggak bisa mikir. Sabtu akhirnya main ke perpustakaan pusat dan cari rujukan. Selasa sampai Minggu saya dengan begitu memaksakan konsentrasi untuk berpikir dan menyulam berbagai hal dan menuliskannya.

Bab 4 itu sangat sulit. Senin pun saya masih menyempatkan diri ikut kuliah lingkungan dan gender dengan Bu Arimbi, aduh bagus banget materinya. Sekarang saya cukup mengerti caranya menganalisis masalah lingkungan menggunakan beberapa teori terutama feminist political ecology. Malam nggak bisa mikir. Walhasil, baru selasa bab 4 itu diganyang. Saya sempat bingung dan panik, “ini gimana, ada banyak hal yang ingin diperbaiki”. Kamis malam aja belum kelar banget, panik deh. Tinggal jum’at, sabtu, dan minggu.

Saya bertekad, Senin harus sudah diserahkan biar Bu Karlina punya banyak waktu untuk baca karena dia orangnya sangat teliti dan kegiatannya juga banyak. Saya memang biasa bangun tengah malam. Biasanya sih cuma untuk minum dan ke kamar mandi. Tapi pas sabtu pagi jam setengah satu saya bangun dan entah kenapa merasa, feeling gua kayaknya ada yang ketinggalan deh. Saya pikir lagi, apaan ya, kok perasaan kayaknya nggak enak. Beneran, koreksi Bu Karlina mengenai perdebatan Popper dan Kuhn belum masuk padahal tambahan itu penting banget. Waktu itu seluruh bab 4 memang sudah dicetak dan saya merasa sedikit aman.

Saya bimbang awalnya, mau dikerjain sekarang masih malam, kalo besok takutnya semangat udah hilang. Ya akhirnya karena saya tahu saya nggak akan bisa tidur lagi kalau gelisah, jam satu mulai saya kerjain sampai hampir jam tiga. Dan saya dengar Fais dan ibunya bangun kayaknya lagi sakit atau gimana. Saya langsung cetak hasil koreksian dan ternyata memang kalo adrenalin lagi tinggi, nggak bisa tidur.

Paginya jam delapan, bapak udah minta dianterin ke bengkel buat perbaikan cat mobil. Ya sudah, diikutin aja. Tempatnya di daerah Pasar Minggu-Simatupang. Abis itu saya langsung pulang naik angkot, padahal bapak nawarin untuk main ke Gramedia Depok. Gila ya, bab 5 belum kelar udah diajak main. Mata aja pinginnya ditutup dan tidur, ngantuk. Sampai siang udah bisa tidur. Malamnya, digeber lagi. Ibu Fais ternyata ngadu sama ibu, “Itu Mbak Niken bangun sampe jam tigaan.”

Malam itu cukup banyak ide lalu baca-baca lagi dua buku yang baru dipinjam. Bagus, dapat ide lagi tapi nambah teori dikit dan belum sempat dimasukkan ke bab dua. Ya, bukunya aja baru dapat hari Sabtu dan baru dibaca Minggu. Kalau sampe dikritik pembaca atau penguji, lho ini kan nggak ada di bab dua, ya saya terangin aja seperti itu, dengan kalimat yang tertata supaya nggak kelihatan culun. Itu pun lebih untuk memperkuat pemikiran dari teori utama, karena kalo nggak ada tambahan penjelasan dari buku yang terakhir agak susah juga saya menjelaskannya.

Minggu, saya kerja full-time dari jam 7 pagi sampai jam 12 malam untuk bab 5. Asik banget. Saya tidak terbiasa mengerjakan tugas sampai hampir pagi dini hari. Tidur pun biasanya jam sepuluh malam, paling telat jam sebelas malam. Tapi harus diakui saya suka dengan tema ini dan rasa suka itu memompakan semangat sampai saya nggak ngantuk bahkan baru bisa tidur jam satu. Malam itu belum semua saya cetak. Saya pikir, “Ah, nanti saja paginya.” Semua data tentu di-back up. Jangan ambil resiko di saat yang penuh resiko.

Paginya, jam empat laptop langsung nyala dan mulai kerja. Diselingi sholat dan do’a dan semangat, saya cetak semua halaman dan ingat bahwa saya belum buat abstrak, daftar pustaka belum dicek, daftar isi belum ada. Untung saja kata pengantar sudah disiapkan karena redaksinya menjadi penyemangat saya untuk selesai tepat waktu. Membuat daftar isi paling seru karena sambil mengecek isi dan urutan halaman dan ternyata harus ada beberapa halaman yang harus dicetak ulang, cukup banyak. Saya sempat panik, waduh selesai nggak nih, udah PD mengirim SMS ke Bu Karlina kalau saya sudah selesai. Harus selesai, pasti bisa, saya menyemangati diri sendiri. Sudah selesai dibuat pun masih ada saja yang salah, eh masalah datang.

Dua hari sebelumnya tinta habis dan tidak bisa diisi ulang lagi. Akhirnya oke, saya kan sudah beli yang baru. Ternyata walau dusnya original, isinya compatible. Saya nggak rela, dibohongin. Tapi okelah, mudah-mudahan bisa sampai selesai. Belum selesai ternyata sudah habis dan namanya compatible nggak bisa diisi ulang. Akhirnya, senin itu membawa draft tesis ke Salemba yang masih kurang tiga lembar. Rencana akan saya print di kampus yang Cuma 500 per lembarnya.

Naik bus PPD butut P2 (sepertinya kondisi bus PPD merefleksikan kondisi keuangannya), suara mesinnya sama berisik dengan mesin truk sampah. Masih untung saya dapat tempat duduk. Sampai di Otista, ya ampun, ada masalah dan busnya tidak bergerak beberapa lamanya. Mereka mau memindahkan penumpang ke metromini atau kopaja tapi keduanya tidak mau dengan bayaran yang kecil. Ada bus P115 yang ke Salemba juga, mereka tidak sudi menerima limpahan penumpang dari P2. Nista banget naik P2. Bus itu akhirnya berusaha jalan dengan lambat sementara saya masih terkantuk-kantuk dan agak tidak sadar di dalam bus. Tidur ketika mengantuk itu nikmat banget. Laki-laki di sebelah saya malah sudah terlelap tidur.

Akhirnya, jadi juga penumpang dialihkan. Ada P2 yang sedang jalan dan sudah sesak mau saja menerima limpahan begitu banyak penumpang. Saya dapat tempat berdiri di tangga masuk pintu depan. Kayaknya saya bisa disebut mahasiswa S2-P2. Bus nya begitu sesak sampai miring ke kiri, saya was-was. Kondisinya sama kunonya dengan bus yang mengalihkan penumpang tadi. Saya tadinya berpikir kalo sampai di kampung melayu akan turun dan naik mikrolet 01 saja, tapi sayang juga uangnya. Akhirnya, sampai juga di UI Salemba dengan selamat. Kayaknya setiap hari adalah kemujuran jika naik transportasi umum di Jakarta dan turunnya masih selamat. Saya kok baru sadar?

Semuanya lancar tetapi pengaturan waktu tidak bisa diprediksi. Saya sholat dulu di kajian, ketemu dan ngobrol sama Dijah. Lalu diajak ngobrol sama Uni Anita bicara soal pengembangan web site Convention watch. Hari Senin, rencananya saya akan ikut serta dengan Bu Achie juga agar tahu proses upload informasi. Sejauh yang saya tahu mereka pakai mambo sebagai CMS-nya. Saya cuma tahu dikit tapi saya yakin bisa. Pokoknya saya yakin bisa mengerjakan apa saja asal saya suka. Abis dari kajian langsung ke STF Driyarkara. Ternyata lagi jam istirahat, jam 13 dan pintu depan dikunci padahal saya disuruh meninggalkan draft ke petugas. Satpam menolak dititipkan. Akhirnya, saya tunggu beberapa menit dan ketemu Bu Karlina, ngobrol di luar.

Dari sana, saya langsung ke Kenari Mas Plaza. Saya mau komplain ke penjual cartridge. Penjualnya perempuan dan dia berkelit gitu. Yah, sudah saya konfirm memangnya ada yang asli dan harganya berapa, ternyata dia memang jual 50 ribu yang asli. Nggak tau kenapa dia dulu ngasih yang palsu. Akhirnya gua beli aja dua, 100 ribu, langsung dibuka dan dua-duanya memang asli dan diberi tanda sama penjualnya supaya kalo ada masalah bisa ditukar. Akhirnya, saya pulang dengan perasaan lega dan lapar.

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s