Pengetahuan-Saya

Gender dan Bahasa: refleksi lanjutan dari tulisan mengenai Gender


Januari 2006

Walaupun saya pernah menulis dan mengutip mengenai gender tetapi saya sendiri masih merasa bingung dengan konsep satu ini. Jadi saya paham kalau orang awam pun mengalami kebingungan yang sama. Secara pribadi, saya rasa konsep gender terus mengalami perkembangan makna.

Saya masih merasa bahwa gender adalah konsep yang netral, terlepas dari anggapan sebagian besar orang bahwa gender memiliki konotasi yang buruk; yaitu memisahkan peran sosial laki dan perempuan -secara timpang. Dengan begitu, akan jadi aneh kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa “Saya sudah jender lho!” untuk mengatakan: saya sangat menghargai peran sosial yang dimainkan perempuan.

Kebingungan saya berlanjut karena sejak lama saya mendengar istilah perspektif gender, kemudian pemerintah mengadakan program pengarusutamaan gender, maksudnya?

Saya memahami perspektif gender sebagai sebuah lensa untuk lebih tajam melihat masalah gender, yang timbul akibat ketidakadilan struktur patriarkal, serta menganalisa dampaknya bagi kualitas kehidupan perempuan. Namun, secara tekstual perspektif gender dapat disalahartikan menjadi suatu paradigma yang mendukung pemisahan peran sosial dan budaya laki dan perempuan demi keuntungan salah satu pihak.

Sama halnya dengan pengarusutamaan gender. Sebenarnya, apa yang ingin dijadikan arus utama: gender, masalah gender, perspektif gender atau keadilan gender? Saya yakin, Kementrian Pemberdayaan Perempuan bermaksud untuk mengangkat masalah gender sebagai perhatian utama dan mengajak seluruh pihak dalam pemerintah untuk mulai melihat dengan perspektif gender. Mungkin nama program tersebut baiknya diganti menjadi program pengarusutamaan keadilan gender. Satu hal yang penting digarisbawahi di sini adalah gender tidak sinonim dengan konsep perempuan.

Saya kembali pada konsep kunci dari kedua konsep di atas yaitu gender. Orang awam mungkin bingung dengan cara penulisan gender, mana yang benar? Menurut KBBI edisi tiga (2001), gender memang ditulis dengan huruf pertama G, tetapi dibaca jender karena gender (lafal: gender) memiliki arti yang berbeda; yaitu alat musik Jawa. Lagi pula dalam bahasa Indonesia G tidak dibaca J. Huruf C saja kalau dilafalkan SE sudah salah.

Bu Rahayu Hidayat memberikan sebuah penjelasan untuk hal ini. Dia mengatakan bahwa tim KBBI menganggap akar kata gender adalah gen (lafal: gen), sehingga kalau misalnya gender diganti penulisannya menjadi jender maka demi asas konsistensi, gen harus diganti menjadi jen. Mau yang mana?

Saya sendiri tidak tahu pasti apakah benar gender berasal dari akar kata gen. Masuk akal memang tetapi sekalipun itu yang terjadi, gen dan gender punya arti yang jauh berbeda sehingga gender sebagai sebuah konsep sudah meninggalkan makna akar katanya. Lagipula, munculnya perbedaan gender dan stereotipe negatif yang mengikutinya bukan hanya karena alasan biologis (gen) perempuan tetapi lebih pada struktur kekuasaan yang berlaku.

Saya bahkan berpikir bahwa penutur asli bahasa Inggris tidak konsisten dalam melafalkan suatu kata. Coba saja, gen mereka baca gen tetapi genetics dibaca jenetiks. Kemudian pelafalan herb dengan here. Bagi mereka yang mungkin bukan penutur asli bisa bingung mencari pola pelafalan kosakata bahasa Inggris, sehingga tidak aneh jika teman saya ketika SMP membaca Hi! (sapaan) seperti dia membaca dalam bahasa Indonesia, Hi.

Kebingungan mengenai kata serapan bernama gender bukan masalah bahasa Indonesia saja, bahasa Perancis dan Swedia juga mengalami hal yang sama. Mungkin kita sebagai orang Indonesia, belum bisa menggali istilah asli yang punya kesamaan arti dengan konsep gender dalam feminisme (atau kurang kreatif saja). Sama halnya dengan kata mouse (dalam bidang teknologi informasi) yang diterjemahkan sebagai tetikus. Buat saya kok kurang pas. Kenapa tidak diartikan sesuai dengan makna atau fungsinya bukan arti harfiahnya, seperti telunjuk, penunjuk atau panah; karena mouse digunakan sebagai alat untuk mengarahkan panah ke salah satu pilihan menu).

Dari gender akhirnya merembet pada membahas bahasa. Kemiskinan bahasa Indonesia dalam mengekspresikan suatu konsep bagi saya suatu paradoks. Sejak Sekolah Dasar saya diajarkan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai etnis dan mereka berbicara dengan beribu macam bahasa dan dialek, tetapi masih saja miskin konsep. Tidak berbeda kondisi Indonesia sendiri, negara yang kaya dengan sumber daya alam tetapi masyarakatnya miskin. Jelas menggambarkan bahwa bahasa daerah kurang terintegrasi dalam bahasa Indonesia.

Penciptaan suatu istilah dan konsep yang menyertainya tidak lepas dari perkembangan pengetahuan suatu masyarakat sebagai pencipta. Mulai kapan ada istilah computer, mouse, cache dalam kamus bahasa Inggris yang memiliki arti berbeda dari konsep yang sudah ada sebelumnya. Kemampuan manusia untuk terus menciptakan makna dan idiom sangat mengagumkan dan sampai sekarang saya masih sering terheran-heran.

Bicara soal bahasa dan gender, saya teringat baru saja menyelesaikan membaca buku Luce Irigaray yang diterjemahkan sebagai Aku, Kau dan Kita: Belajar berbeda. Bukunya terbitan lama tetapi baru tahun ini dialihbahasakan oleh Gramedia. Fokus Irigaray adalah kritisme terhadap bahasa Perancis.

Bahasa Indonesia dibandingkan bahasa Roman termasuk “ramah pada perempuan”. Saya mengetahuinya ketika sejak SMP belajar bahasa Inggris dan semakin tercengang lagi ketika kuliah belajar sedikit bahasa Perancis. Seluruh benda mati diberi sifat maskulin dan feminin, saya heran karena tidak tahu bagaimana mekanisme penilaian benda A adalah maskulin dan benda B adalah feminin. Guru Perancis saya juga tidak tahu, dia hanya mengatakan bahwa di kamus Perancis sudah tertulis penunjukan tersebut.

Bahasa Perancis sama dengan bahasa Indonesia merupakan kaki tangan kekuasaan, seperti yang dikatakan Foucault. Bahasa Indonesia diklaim sebagai bahasa pemersatu dan dipakai oleh seluruh rakyat Indonesia. Padahal, belum seluruh penduduk Pulau Jawa mampu berbahasa Indonesia. Saya sendiri pernah punya tukang pijat di Paiton, Probolinggo yang tidak bisa bahasa Jawa dan Indonesia, hanya bisa bahasa Madura.

Kekuasaan ditanamkan di bawah sadar manusia melalui bahasa. Mereka yang kuat dan menang menciptakan bahasa. Laki-laki dibilang ganteng, perempuan disebut cantik; intinya memiliki paras yang elok. Tetapi kalau laki-laki dan perempuan buruk rupa maka sebutannya sama yaitu jelek.

Manusia memberi warna dan rasa pada bahasa; manusia memberi label pada dunia yang dihuninya. Laki-laki secara khusus tidak tanggung-tanggung memberikan sifat gender mereka kepada beberapa benda yang dianggap memiliki karakter yang sama. Saya sendiri penasaran, apakah dalam sejarah proses pemberian sifat gender tersebut, laki-laki dan perempuan saling bertukar pikiran, bertengkar atau bertindak sepihak?

Bahasa digunakan juga oleh perempuan, diolah oleh perempuan sehingga perempuan harus punya akses menciptakan bahasa. Seperti apa sih gender dalam bahasa Indonesia? Saya harus membaca lagi.
———————————————-+

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s