Pengetahuan-Saya

Bunuhlah Laut!


17 September 2006

Tulisan ini mengenai lumpur panas yang akan segera menenggelamkan beberapa desa di Sidoarjo, Jawa Timur. Hari ini dan beberapa hari sebelumnya ada banyak suara yang menyatakan bahwa air lumpur aman dibuang ke laut dan tuntutan masyarakat makin keras bahwa pemerintah harus mendahulukan nyawa manusia daripada ikan dan tambak. Sederhana sekali pemahaman mereka mengenai lingkungan.

Rumah adik dari bapak sudah terkena genangan lumpur panas ini dan adik bapak yang lain yang tinggal di Juwet, Porong ikut terancam juga. Rumah nenek di Waung sepertinya terhindar karena cukup jauh tapi semua bisa di luar dugaan. Oleh karena itu, saya berbicara bukan karena saya tidak punya ikatan apapun atau tidak ada keluarga yang ikut menjadi korban. Namun, cara menyelesaikan masalah dengan menambah masalah lain yang justru mengherankan.

Manusia di darat telah mengalami penderitaan akibat semburan lumpur panas dari eksplorasi gas dan minyak yang dilakukan pihak Lapindo Brantas dan rekanan mereka. Rumah yang sudah tenggelam, tanah yang sudah tercampur lumpur, sumur yang terkontaminasi, dan kerugian lain tidak bisa direhabilitasi dalam waktu cepat. Menurut prediksi para ahli, semburan lumpur akan bertahan sampai kurang lebih 10 tahun sehingga ini adalah keadaan darurat. Penanganannya pun secara darurat yaitu menggelontorkan lumpur itu ke Kali Porong dan ke laut.

Sejak awal kemungkinan pilihan itu muncul, saya bertanya dalam hati, “Apa salah sungai dan laut sehingga mereka ikut dilibatkan dan dikorbankan dalam suatu masalah yang mereka sendiri tidak punya peranan di dalamnya?” Saya rasa eksplorasi yang dilakukan Lapindo pun tidak pernah mengikutsertakan dialog dengan sungai dan laut karena alam dianggap mati; tunduk dalam kekuasaan manusia. Padahal, manusia harusnya melihat hal sebaliknya dalam kasus lumpur panas ini. Alam tidak pernah pasif, diam, menunggu, dan mati.

Masalah lingkungan sering dipahami terlalu sederhana sebagai konsep yang berhubungan dengan pelestarian hutan, flora, dan fauna. Pemahaman itu bertolak belakang dengan konsep lingkungan yang saya pahami. Saya ingat sekali guru di SD yang mengajarkan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), pelajaran yang saya sukai, menunjukkan gambar ekosistem sebagai sebuah siklus dari seluruh organisme yang saling mendukung satu sama lain. Jika salah satu dari siklus itu hilang atau punah maka semakin kecil /pendek siklusnya. Lingkungan bagi saya adalah suatu sistem dan manusia hanya salah satu bagian dari siklus itu.

Manusia dengan anugerah “kecerdasan” yang dimilikinya merasa keberadaan dan keselamatan mereka lebih penting dari makhluk lainnya. Oleh karena itu, menanggapi kematian beberapa ikan “kecil” di tempat pembuangan lumpur dianggap enteng dan jauh lebih baik daripada mengorbankan manusia. Ini aneh, karena setahu saya kematian / abnormalitas beberapa jenis hewan di darat, laut dan udara sebenarnya merupakan suatu indikasi bagi manusia untuk mengetahui status lingkungan suatu tempat. Bukan kali ini saja, indikasi atau peringatan lain dari alam diabaikan untuk suatu tujuan jangka pendek yang dianggap “lebih baik”.

Pada satu sisi, alam dianggap begitu cerdas sehingga dapat mendaur ulang secara otomatis kandungan lumpur yang secara sembrono “diganggu ketentramannya” dalam perut bumi. Pada sisi lain, alam dianggap begitu bodoh karena manusia mengabaikan peringatan yang telah diberikan. Pada kasus lumpur panas ini, alam ingin menunjukkan siapa yang lebih bodoh; saya atau manusia.

Tampaknya, manusia sudah memutuskan untuk tidak saja memindahkan masalah tetapi juga menambah masalah yang sudah ada. Tugas menjadi lebih berat karena lingkungan darat dan laut akan menderita. Aneh sekali jika manusia berpikir bahwa dengan cara pembuangan lumpur ke laut maka masalah akan berkurang atau bahkan menghilang. Apa jaminan yang bisa diberikan? Keyakinan macam apa yang dimiliki manusia sampai berpikir bahwa apa yang terjadi di laut tidak akan berpengaruh pada (alam) mereka yang hidup di darat?

Masalah bermula dari industri eksplorasi salah satu kekayaan alam. Saya sendiri paham bahwa keberadaan Lapindo di Porong dan sekitarnya telah membawa sebentuk kemakmuran pada masyarakat. Jalan dari Pasar Porong sampai Tulangan sudah mulus diaspal. Beberapa tahun yang lalu saya sendiri kaget lalu diberitahu saudara mengenai sumbangan Lapindo. Beberapa hektar sawah di Waung yang menurut perkiraan Lapindo mengandung gas alam juga dibeli dengan harga yang sangat tinggi. Rumah-rumah di Waung dan sekitarnya sudah banyak mengalami perubahan. Namun, bencana yang biayanya mungkin sepadan atau bahkan lebih besar dari keuntungan yang direncanakan ada di depan mata.

Sebenarnya ini kesempatan untuk manusia membuktikan kecerdasan dan kearifan yang mereka klaim sehingga meremehkan keberadaan jenis kehidupan lain di Bumi. Kita lihat!

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s