Pengalaman-Saya

Anak Polisi Mempertanyakan Posisinya


Jakarta, Maret 2006.

Tulisan ini mengenai polisi dan profesionalisme mereka.
Bapak saya sendiri seorang polisi, anggota POLRI. Ibu saya tergabung dalam Bhayangkari dan menjadi anggota aktif. Saya banyak mengetahui mengenai kerja polisi dari berinteraksi dengan bapak saya. Interaksi itu sendiri tidak selalu dengan kata-kata. Bapak sering terlalu sibuk untuk ngobrol atau berdekatan dengan anak-anaknya. Hal itu mungkin lebih berhubungan pada karakter pribadinya daripada profesinya, tetapi dengan berada di korp POLRI, karakter itu semakin kuat dan tumbuh subur.

Bapak bergabung di kepolisian pada pertengahan 70-an. Pastinya dia ditugaskan di Jakarta pada tahun 1976 di daerah Kota. Pada tahun 1978 dia menikahi ibu saya dan April 1979 saya lahir ke dunia. Waktu itu POLRI masih berada dalam payung ABRI.

Ketika kecil, saya hanya tahu bahwa menjadi polisi berarti selalu pulang malam, harus memiliki karakter keras, berwibawa, dapat menyuruh-nyuruh orang, galak, dan orang biasa (bahkan termasuk istri dan anak-anaknya) takut dengan sosok ini. Ketika saya melihat sosok polisi sekarang, ada beberapa hal yang berubah tetapi tampaknya deskripsi saya di atas masih menjadi karakter khas yang ingin dilestarikan polisi, terlepas dari latar belakang AKMIL atau bintara.

Ditakuti orang bukan berarti mereka menghormati dan menghargai kerja yang dilakukan. Hal yang sama terjadi pada polisi. Apakah kerja dan profesi polisi dihormati dan dihargai masyarakat? Secara umum, masyarakat akan mengatakan memerlukan tenaga kepolisian tetapi pada saat yang sama membenci karakter dan kesombongan yang ditunjukkan polisi.

Remaja laki-laki mengantri untuk dapat menjadi polisi. Di tingkat bintara pun masih lumayan tapi gengsinya lebih tinggi jika lulus dari AKPOL atau AKABRI. Lalu dari mana gengsi itu terbentuk? Saya melihat salah satunya adalah materi, bukan hanya gaji tetap setiap bulan tetapi ‘hal lain’ yang diperoleh dari status dan wewenang seorang polisi. Berada dalam struktur kekuasaan dan menjadi ‘yang kuat’ dari yang lain adalah tawaran yang sangat menggiurkan.

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis mengenai topik ini tetapi terganjal oleh pikiran lain. Lagipula analisis saya belum tajam sehingga kalaupun ditulis hasilnya seperti surat pembaca di harian ibu kota. Tetapi hati ini menjadi kesal, marah, dan kecewa oleh tiga peristiwa yang terjadi belakangan.

Pada hari Senin (20/2) saya pergi (dengan agak dipaksa) bersama pengelola Rumah Singgah Kurnia yang ingin menunjukkan sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini-program dari Depdiknas) yang dia kelola di Kampung Makasar, tepat di belakang proyek Taman Mini Square. Dalam perjalanan, ternyata ada razia polisi terhadap kendaraan roda dua. Kendaraannya ikut diperiksa tetapi surat kendaraan kemudian diserahkan kepada seorang yang kelihatannya polisi preman yang berjaga 100 meter dari tempat razia.

Beberapa pengendara lain kebanyakan tertunduk lemas dan pasrah. Saya merasa bingung. Beberapa memang salah karena tidak memakai helm, termasuk saya, tetapi bapak teman saya memakai helm. Saya pikir bila pengendara itu memiliki surat sah motor maka tidak perlu gelisah dan tidak berdaya. Tapi melihat ‘transaksi canggih’ menggunakan bahasa tubuh maka saya dapat merasakan ‘sesuatu yang ingin diciptakan’ oleh pamong praja ini.

Peristiwa kedua terjadi dengan perbedaan waktu beberapa puluh menit. Kejadiannya beberapa meter dari lampu merah Pasar Rebo ketika saya hendak pulang ke Kalisari. Saya naik angkot T09 dengan trayek Kalisari – Pasar Rebo lalu seorang polisi keluar dari mobil patroli dan langsung duduk manis di samping kursi sopir. Tangannya aktif mencari sesuatu di dashboard. Sopir lalu mengeluarkan STNK dan memberikan ke polisi tadi. Dengan nada suara keras dan menantang, dia berkata, “Mau disidang, kamu mau disidang, mau disidang?”

Dalam hati saya bertanya, “Apa-apaan sih?”
Polisi itu keluar melewati saya yang duduk di dekat pintu. Usianya masih muda, saya tidak sempat melihat nama di seragam. Dia keluar menggenggam STNK sopir dan masuk ke mobil patroli. Dalam angkot itu kebetulan hanya ada saya seorang. Sopir akhirnya ke luar dengan kesal tapi terlihat pasrah. Dia menggulung beberapa uang kertas dan meninggalkan saya.

Tidak suka dengan kejadian itu dan karena saya juga lelah, akhirnya saya pindah ke mobil lain. Setelah saya pikir lagi, angkot yang saya naiki tadi berada di posisi pinggir, bukan di tengah lalu lintas sehingga tidak terlalu mencolok. Polisi itu, saya rasa dia terlatih melalui pengalaman dan doktrin para senior, melihat ‘ada mangsa’ untuk menambah penghasilannya.

Peristiwa ketiga adalah ketika bapak saya dimintai tolong saudara yang ingin mengurus surat izin bepergian dalam rombongan. Saudara saya itu membawakan sekaleng kue agar dapat dibantu atau didampingi agar prosesnya tidak dipersulit. Sekitar dua hari kemudian mereka berdua mengurus izin itu tetapi sebelum berangkat bapak berkata, “…bantuin dia seharian cuma dapet kue kaleng. Kalo sama Dewi [nama samaran] enak, nanti bisa nodong.”

Saya terkejut. Sebenarnya saya sudah mengetahui sikap bapak tetapi saya merasa bahwa perasaan terkejut itu harus ada ketika hal seperti itu terjadi. Saya merasa ada sesuatu yang salah. Satu hal juga menyesakkan adalah bapak saya sendiri menjadi bagian dari ‘sesuatu yang salah’ itu. Saya tidak membela apa yang dia lakukan karena sekali salah tetap salah.

Saya bosan dan kesal dihantui perasaan bersalah. Saya, sebagai anak seorang polisi, merasakan itu. Entah apa bapak juga merasakan hal yang sama atau baginya hal itu dianggap wajar dan normal. Ketika saya dibelikan mobil katana bekas, di benak saya tumbuh berpuluh tanya; dari mana uangnya, uang bapak kok banyak, mungkin hasil menabung tapi apa iya, mungkin dia punya bisnis lain tapi bisnis apa, mobil ini halal nggak ya, dan sebagainya. Saya tidak dapat menanyakan hal itu langsung padanya karena hubungan kami pun tidak terlalu akrab. Pertanyaan-pertanyaan itu mengendap.

Untunglah ibu saya juga ikut menyisihkan uangnya untuk membeli mobil itu. Saya tahu bahwa setidaknya ibu memiliki ‘usaha’ yang lebih baik walau hasilnya tidak terlalu banyak. Saya merasa agak lebih nyaman walau kegelisahan itu masih ada. Saya melihat bahwa ibu pun sering mendorong bapak untuk mencari uang tambahan tidak peduli bagaimana cara mendapatkannya.

Saya sendiri merasa bersalah karena kadang suka bercerita ke bapak kalau ada teman yang membeli barang ini, itu dan harganya mahal. Secara tidak langsung saya juga mendorong bapak untuk memperkaya diri sendiri supaya kedudukan dan status kami sebagai keluarga dapat disamakan dengan keluarga lain yang lebih mampu. Saya dan keluarga menjadi terbawa oleh gaya hidup yang dianggap standar oleh kapitalis.

Semakin lama, semakin mengganggu. Bapak semakin terobsesi oleh gengsi gaya hidup tertentu yang dinilai sesuai dengan kepangkatan seseorang. Semua orang juga ingin hidup nyaman dan mampu membeli ini, itu tetapi lalu apa? Yang diperoleh kemudian sensasi memiliki suatu barang tetapi esensinya, saya tidak tahu.

Bapak ingin menikmati masa pensiun dengan perasaan nyaman dan tenang. Dia mungkin dapat melakukannya karena paradigma hidupnya telah dibentuk sedemikian rupa untuk membenarkan segala tindakannya. Seperti orang lainnya, dia merasa iri dengan kesuksesan dan kekayaan orang keturunan cina. Pada saat yang sama, ibu juga membandingkan besaran gaji dan sikap bapak dengan suami tetangga.

Saya tidak serta-merta menuduh istri sebagai pendorong perilaku korupsi suami. Rasanya kok terlalu mudah putusan yang terlalu mudah. Mereka yang belum berkeluarga pun sudah belajar mengenai korupsi dan nikmatnya memiliki uang dan kekuasaan. Berbagai kenikmatan yang saling bertautan itulah yang perlu diinterpretasi ulang. Sama halnya dengan mencari penyebab kenikmatan dari merokok. Bagaimana rasanya berusaha berhenti dari sebuah kebiasaan yang menimbulkan kenikmatan dan sensasi dalam diri? Lelaki harus ‘menggosipkan’ ini.

Menjadi polisi masih merupakan idaman banyak orang, terutama lelaki. Konstruksi maskulin tradisional sangat dimanjakan di institusi ini sehingga mereka merasa mendapat tempat yang pas dan istimewa. Berbondong-bondong lelaki mendaftar dan pada saat itu pula terjadi aktivitas kolusi. Gede-gedean dan saya tahu itu walau tidak secara detail. Setiap kelulusan memiliki harga yang harus dibayar dan itu jauh sebelum laki-laki beristri.

Akhirnya putaran itu berlanjut. Mereka yang tidak memiliki pangkat atau jabatan tinggi pasti merasa iri dengan kekayaan yang dimiliki rekan atau senior polisi lain. Mereka juga sudah terjebak dalam kebutuhan untuk mengkredit motor, mobil, rumah, HP, TV, DVD, dan sebagainya. Buat apa menjadi polisi kalau hanya mendapat gaji bulanan? Kenaikan tunjangan mungkin dapat mengerem tindakan ‘preman’ mereka tetapi industri akan terus menekan tingkat ketidakpuasan mereka. Ada saja bahan pokok baru yang diciptakan. Kadang hanya modelnya yang baru tapi esensinya sama. We are craving for more.

Saya ikut berduka jika supir angkutan umum yang tertekan akibat kenaikan harga BBM kemudian ditekan lagi oleh PP alias polisi preman. Para polisi itu ‘hanya’ dapat melakukan aksi kacangan karena masih ada kesempatan. Polisi ‘elit’ dengan pangkat tinggi tidak kalah premannya tetapi aksi mereka lebih pada menjadi tukang pukul pengusaha besar termasuk dari keturunan cina. Bapak saya menganggapnya sebagai kerja sama yang saling menguntungkan.

Sebenarnya tidak ada yang diuntungkan. Polisi seharusnya menjadi penegak hukum tetapi jika pengetahuan mengenai hukum itu lalu membuat mereka mengetahui celah untuk mempermainkan hukum, maka siapa yang harus dihukum?

Dengan pengalaman itu, sulit bagi saya untuk tidak menjadi kecewa. Bertahan untuk tidak terpengaruh adalah mustahil dan saya tahu sulit bagi siapa pun untuk tidak ikut terjebak dalam pusaran mematikan itu. Pusaran itu terlihat indah dan dari luar tampak menyenangkan tapi akhirnya akan menarik kita tenggelam ke dalamnya. Setelah itu, apa yang akan dibawa dan dibanggakan?

SM

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s