Pengetahuan-Saya

Suami takut istri atau Istri takut suami?


Sept 2005

Anda pro yang mana?

Pertanyaan ini muncul ketika seorang teman laki-laki menceritakan kisah temannya yang dikatakan beristrikan perempuan galak. Istri temannya tidak mau membukakan pintu rumah jika suami pulang lewat dari jam yang ditentukan. Suaminya dibiarkan tidur di luar. Ini menarik. Teman ini kemudian menyarankan bahwa laki-laki jangan mencari istri yang galak dan menjadi istri juga jangan galak-galak.
Nasehat yang bagus.
Lalu bagaimana dengan suami yang galak pada istri dan keluarga? Mana dong protesnya!

Di forum diskusi Female Radio ada perdebatan kusir seru dari beberapa orang mengenai kodrat perempuan yang secara terselubung ikut membicarakan kodrat laki-laki. Akhirnya kemudian merembet pada diskusi kodrat istri dan kodrat suami. Saya rasa mereka juga akan berpikir kalau kambing pun punya kodrat yang berbeda jika sudah kawin.

Boleh tidak sih istri galak pada suami? Sebatas mana galaknya? Apakah batas galak antara suami dan istri berbeda, kenapa berbeda? Apakah Tuhan memang menciptakan laki-laki lebih galak daripada perempuan?
Apakah Tuhan itu sendiri entitas yang “galak”?

Kebetulan saya besar dalam lingkungan dimana istri takut suami alias suami jauh lebih galak dari istri. Sebagai anak saya tidak merasa tenang. Saya melihat bapak saya atau suami ibu saya seperti layaknya sebuah bom. Kalau bom biasanya hanya punya satu pemicu, bom satu ini pemicunya ada di seluruh tubuh. Kesenggol dikit harus panggil Gegana POLRI. Tidak ada yang bisa mencegah dia dari meledak karena dia adalah kepala keluarga. Tetangga berusaha maklum. Katanya: laki-laki memang begitu.

Bagaimana kalau yang marah adalah istri? Stigma yang keluar adalah persis seperti yang teman laki-laki saya katakan. Dia sendiri heran, kok ada istri yang galak sama suami sendiri? Saya juga penasaran, kok ada suami yang galak sama istrinya sendiri? Substansi pertanyaannya sama tapi subjek pertanyaannya berbeda.

Saya jadi berpikir mengenai label emosional yang entah mulai abad keberapa dilekatkan pada kaum perempuan. Emosional tidak diberikan pada sembarang atau seluruh emosi yang dimiliki manusia tetapi hanya emosi yang “feminin”. Jadi biasanya kalau seorang laki-laki marah, membentak, mencaci dengan nada yang tinggi; itu tidak dianggap emosi yang emosional. Padahal kemarahan adalah salah satu bentuk emosi.

Emosi yang feminin dan dianggap emosional adalah terharu, sedih, menangis karena dianggap berhubungan dengan perasaan. Kadang saya jadi bertanya, apakah mereka yang membentak dan mencaci tidak punya perasaan? Bukannya perasaan mereka jauh lebih “halus” karena mudah “meledak”?

Kalau kemudian perasaan yang dialami laki dan perempuan sama, kenapa yang keluar berbeda? Kenapa label yang dikenakan juga ikut berbeda? Apakah saya cukup normal untuk bertanya hal ini berhubung saya belum menikah? Atau alasan saya belum menikah karena saya tidak ingin menjadi istri yang takut dengan suami? Dan mungkin alasan belum ada lelaki yang tertarik dengan saya adalah karena mereka tidak ingin menjadi suami yang takut istri?

Satu tulisan ini lebih banyak bertanya daripada menjawab. Mungkin saya atau Anda sudah punya jawabannya, tetapi jawaban itu masih harus dikritisi lagi. Hal ini juga berhubung ibu saya terus mendorong saya untuk menikah. Wah, ini ide tulisan yang lain lagi.

9 Sept 2005

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s