Pengetahuan-Saya

Prosa Bergulir


Mei 2005

Saya menyebutnya seperti itu. Gairah prosa yang tidak terbendung dan menggelinding membesar. Tidak ada prosa tua atau prosa muda, semua prosa istimewa. Aturan prosa sebatas formalitas karena gairah seharusnya menyebar dan mengalir. Walaupun diberi pagar teralis, prosa akan keluar dari batas.

Menulis prosa bak menyanyi dengan irama. Sekalipun jalurnya rap bahkan hip hop, dentumannya terasa. Kadang berulang dan membosankan, kadang hambar tapi menghanyutkan. Prosa mengikuti arus hati bertegangan tinggi. Rimanya bisa kacau terjaga, alurnya bisa meliuk bercabang, tetapi jiwanya penuh.

Catatan harianku adalah prosa bergulir. Hanya curahan hati ngelantur. Temanya satu, hidup saya dan suka dukanya. Yang penting atau tidak penting dimasukkan dan sekilas tanpa pertimbangan matang. Prosa menjadi catatan proses pembelajaran. Prosa seperti observasi terhadap kehidupan pribadi dari sudut pandang subjektif, yang bila dibaca sebulan kemudian bisa membuat kita sendiri heran: “Saya menulis seperti ini?”

Prosa bisa dikatakan refleksi suatu peradaban. Konsumen prosa berjenjang; ada yang berpendidikan, ada yang tidak. Seseorang itu harus bisa membaca, bagaimana bisa kalau rakyat kita buta aksara dan tidak mampu merangkai kata atau menangkap makna. Prosa itu sederhana dan bersahaja, bahkan dalam prosa stensilan atau pinggir jalan. Ada prosa sensual dan prosa kekiri-kirian sehingga menjadi prosa terlarang.

Tidak perlu menjadi profesor dulu untuk mengurai buih-buih pengalaman. Seorang Wiji Thukul dihilangkan karena sebuku kecil prosa perlawanan puitis. Dipikir mereka, orang awam ini mencemarkan kemurnian sastra dengan segala macam retorika yang dicampur dalam sebuah prosa padat berisi. Bagi elit politik, seni harusnya seni tanpa pamrih; benar-benar asli. Kalau seni dengan propaganda namanya sudah lain, politisasi seni. Menghasut, subversif. Begitulah adanya seni, apanya yang tidak asli?

Seni tidak pernah memalukan, kalau seni menjadi eksklusif maka negara ini akan menjadi totaliter. Semua orang sejak lahir punyak hak untuk berprosa dan berproses. Anak orang miskin harus bisa sekolah, dimana pun di sudut dunia. Mereka punya hak membaca karya sastra dan mencipta dunia. Pendidikan menjadi jalan masuk ke prosa. Masa depan bangsa akan kering tanpa senandung anak-anak ingusan yang bermain asal-asalan, menggambar grafiti di tembok jalanan, menulis kebrengsekkan zaman di jok kursi bus kota. Mereka toh tidak diberi media.

Sudah lama hidup ini menggila dan mereka yang muda tidak mendapat tempat. Suara mereka dibiarkan tenggelam dan marjinal. Kalau soal cibiran mereka sudah kebal. Jebolan SD kok mau bikin puisi? Nanti kurang nyeni. Kedalaman materi tidak ada. Mati.

Apa ada kota pusat seni? Apa ada orang muda yang tidak frustasi? Prosa bergulir harusnya menjadi salah satu jawaban. Karya saya tidak perlu diterbitkan untuk dibaca sejuta umat. Keinginan manusia untuk dipahami kadang terlalu obsesif dan sama narsisnya dengan kekaguman fisik. Seni itu komersial dan mahal. Seni yang marjinal bersifat terjangkau dan massal. Sama seperti klasifikasi buta ilmu pengetahuan. Yang ini intinya, yang ono cabangnya; yang ini bergengsi, yang lain lahir darinya.

Prosa memiliki keturunan abadi. Prosa beranak pinak karena “rasa” adalah perasaan yang menular; manusia memiliki nalar dan “rasa”. Begitu keduanya digelitik, menulislah manusia. Kalau orang Rimba tidak lancar menulis, bagaimana orang Jawa tahu mengenai kehidupan dan sejarah mereka? Apa sih seninya Orang Rimba? Jangan-jangan saya yang Jawa, tahunya cuma seni yang tidak berakar?

Pendidikan untuk melawan kemiskinan. Prosa untuk perlawanan. Enak di dengar dan sulit dilakukan. Semua yang saya tulis agak berbau mimpi dan penuh bumbu imajinasi. Saya bergulir dan mengalir sampai tersangkut akar pohon.

Ajarkan perempuan kita menulis, kalau tidak, mana orang tahu perasaan dan pengalaman perempuan. Tentu saja berbeda, Presiden. Tulisan sejarah kita disusun oleh laki-laki dari kelompok elit. Sejarah KUHP/Per kita ditulis dalam bahasa kolonial. Paradigma KUHP/Per kita menganut asas patriarki. Si empu dan puan terselip di sana-sini; mengintip.
Isilah kepala laki-laki muda dengan keindahan daripada norma maskulin yang menekan. Begitu luasnya dunia prosa yang belum dijamah “rasa”.

Serukan sastra imajiner yang kasar dan tidak beraturan. Makna hidup tidak satu saja. Prosa ini bukan untuk saya saja.
Fotokopi kertas yang berisi prosa itu dan tempel di papan pengumuman. Seni murahan yang terjangkau. Bagikan atau tempelkan di pintu bus kota. Biarkan kernetnya baca dan geleng-geleng kepala. Siapa sekarang yang gila?

Jangan dibuat jarak kalau tidak bisa membuat jembatan. Saya dan Anda sama saja manusianya. Prosa kita berbeda karena pengalaman kita di tempat yang berbeda rasa; tapi sama-sama luar biasa. Menulis prosa tidak bisa dipaksa. Tetapi prosa seperti perempuan; rentan untuk diperkosa untuk mendapatkan kekuatan di dalamnya. Tidak akan bisa! Saya juga tidak rela.

Prosa bergulir mengingatkan saya pada karangan untuk ujian Bahasa Indonesia ketika kelas satu atau dua. Aduh, senangnya berkesempatan menuliskan sesuatu yang berasal dari rasa diri. Tidak peduli kalau temanya sudah dipatok. Saya menulis mengenai proses saya dari rumah pergi ke sekolah. Dengan kalimat pendek dan sederhana, saya berusaha. Saya tahu akan ada orang lain yang membaca. Saya ingin berpanjang-panjang tetapi halaman kosong terbatas dan saya agak stres. Saya senang bercerita walau iramanya naik turun dan tidak sistematis, saya suka, itu saja.

Saya suka memegang pena dan berusaha mengeja kata demi kata, menuliskan konsep dan rasa dan melahirkan makna. Dulu, saya masih merah putih dan bangga dengan bahasa. Saya tahu dunia dari sana. Ide saya masih melompat penuh gairah, segala macam kaidah saya hapal dan abaikan. Saya berada di alam lain.

Saya menulis non-fiksi, pengalaman saya sendiri. Apa yang saya rasakan, ingin saya bagikan supaya yang di luar saya tahu bagaimana menjadi saya. Begitu juga orang lain. Pengalaman adalah sejarah dan saripatinya menjadi pelajaran. Segala macam peperangan dan kisah besar bukan hanya mengenai si pemimpin dan kekuasaan dan jumlah kematian. Hal-hal di luar non fiksi dilengkapi oleh fiksi. Trilogi novel sejarah Mangunwijaya mengajarkan rasa prosa yang tertinggal dari buku pelajaran sekolah.

Sejarah bukan benda mati, bukan juga sekumpulan peristiwa bunuh-bunuhan yang maskulin. Perlu tenaga lebih untuk bisa menggali dan membaca apa yang dikuburkan dan dikaburkan oleh kitab tua yang dibuat Empu. Sastra 245 adalah salah satu jawabannya. Kenapa 245? Karena bila dibaca akan terdengar rimanya. Dua empat lima.
Saya senang menggali alam pikiran sendiri dan mencomot milik orang lain melalui percakapan. Saya suka memancing ide orang lain dengan membaca. Kolam besar buatan itu dinamakan prosa lubuk hati.

Saya suka menyelami masa; yang lalu, sekarang dan akan datang. Masa mempunyai pengaruh pada pembentukan rasa. Masa lalu tidak selalu kegelapan melulu. Seringnya manusia tidak suka menggali lebih dalam. Takut melihat refleksi diri dan kehidupan yang sangat tidak sempurna. Masa sekarang adalah perjuangan, terus menapak, berkesadaran, membentuk keadaan masa depan. Ketidakpastian adalah tantangan dan bisa jadi sumber kebahagiaan. Masa yang tergeletak besok menjadi sumber kecurigaan dan kejutan. Tidak perlu kembang api, terus saja bertanya. Pada prosa.

19 Mei 2005

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s