Pengetahuan-Saya

Liqo


Jan 2005

Sejak masuk UI bulan September 1997 sampai lulus, Niken mengikuti yang namanya Liqo atau pengajian. Tempatnya biasa berpindah dan mentor juga bisa berubah. Selama periode kurang lebih 4 tahun tersebut Niken sempat berganti 3 mentor. Saat masuk Niken tidak memiliki prasangka apapun dan mengikuti Liqo tanpa beban. Beberapa lama kemudian hal tersebut berubah. Seiring dengan itu, Niken pun ikut berubah.

Niken bergaul dalam lingkup yang “itu-itu aja”. Niken pasif dan hanya mendengarkan dan menerima materi. Citra mentor bagi Niken agak menakutkan karena “seakan” mempunyai otoritas tertentu. Sudah sekitar 3 tahun ini Niken tidak mengikuti Liqo. Niken merasa ada yang kurang tetapi juga tahu bahwa Liqo bukanlah jawabannya. Beberapa teman sempat mengajak kembali mengikuti Liqo tetapi Niken merasa sudah menemukan peta jalan yang selama ini dicari.

Beberapa minggu terakhir sempat bertemu dan berhubungan dengan dua dari tiga mentor. Dan sempat merasa khawatir bila mereka tidak bisa menerima Niken “masa sekarang”.
Niken bahkan sempat takut dan merasa tidak nyaman dengan keadaan Niken yang sekarang. Tapi kenapa? Apa memang ada yang salah menjadi Niken “yang sekarang”? Apakah pilihan Niken akan digugat dengan keras? Bagaimana Niken menghadapi gugatan, bila itu kemudian muncul?

Liqo masih Niken pahami seperti keadaan yang dulu (1997-2001) dan Niken pikir tidak banyak yang berubah. Niken mulai sadar sumber ketakutan itu karena Niken takut untuk menjadi diri sendiri. Niken merasa liqo bukan satu-satunya sumber mendapatkan ilmu tentang Tuhan. Dengan pendekatan personal yang dilakukan, saya merasa ada kewajiban untuk hadir dalam setiap pertemuan.

Liqo menjadi sangat kaku dan keindahan Allah dan Islam seperti dipaksakan untuk dipahami. Saya bukan orang yang kaku jadi apa yang diajarkan tidak bisa mengalir sempurna. Saya memahami fenomena ke-Islaman secara berbeda tapi saya diam saja. Sekarang Niken melihat Allah dan Islam bukan sebagai sesuatu yang terindah atau yang terbaik dari yang ada. Kata terbaik atau terindah membutuhkan suatu pembanding dan Allah bukan entitas yang dapat begitu saja dibandingkan dengan benda dan makhluk lain.

Keindahan Allah dan Islam yang berhasil Niken lihat bukan hasil paksaan. Hal itu datang sendiri karena pencarian yang tiada henti dengan bertanya dan terus bertanya. Selama di liqo, Niken merasa kurang bebas untuk bertanya. Niken takut dengan sosok mentor. Jawaban atas pertanyaan yang saya ajukan juga tidak pernah tuntas dan justru menggantung entah di mana.

Niken masih ingat ketika semester satu dan Jalee (teman kuliah) bertanya di kuliah Agama Islam: Kenapa Allah memilih nama Allah, kenapa tidak nama lainnya? Apa artinya?
Respon sebagian besar orang sangat heboh dan menggugat pertanyaan itu. Niken cuma termangu heran. Niken tidak merasa ada yang salah atau aneh atau kurang ajar dengan pertanyaan tersebut. Kenapa jadi heboh? Apakah mereka yang merasa tersinggung dengan pertanyaan tersebut mempunyai jawaban dari pertanyaan tersebut? Kalau iya, kenapa disembunyikan?

Sekarang, Niken bisa mempertanyakan semuanya dan tiba-tiba tidak ada lagi beban bahwa “ini sudah dari sononya”. Niken sadar bahwa kalau manusia ingin melihat keindahan Allah dan Islam maka yang harus dilakukannya hanya satu: membuka mata, baik mata secara fisik dan mata hati. Dan itu bukan perkara mudah. Membuka mata memiliki konsekuensi yang panjang dan kesabaran yang tiada berujung. Membuka mata memerlukan serangkaian pertanyaan yang terus bertambah setiap harinya.

Pengaruh liqo yang bagi Niken kurang baik adalah ketika Niken lalu menjadi sombong dan takabur. Aduh, tahu nggak sih capeknya jadi orang yang takabur? Saya tidak bisa begitu saja menyalahkan liqo karena pasti ada unsur “sifat Niken-nya” di sana. Tetapi dalam forum liqo Niken diajarkan bahwa pemahaman mereka terhadap Islam adalah yang benar; jilbab Niken sesuai dengan syari’ah, jilbab gaul salah, apalagi yang nggak pake jilbab (mencium bau surga saja tidak bisa!). Ada wanita cantik pakai rok mini gelisah, ada yang Islam-nya beda marah. Niken keras kepala dan tidak bisa menghargai perbedaan. Dunia menjadi fitnah. Dunia tidak lagi indah.

Niken ingin menerima orang lain seperti apa adanya. Niken ingin menjadi orang yang tidak takut bertanya. Niken tidak ingin terus-terusan bangga tanpa arah. Niken capek. Bukan itu yang Niken cari. Dunia bukan penjara dan ibadah bisa dilakukan dengan berbagai cara.
Niken sudah mencapai kesepakatan untuk menjadi diri sendiri dan tidak malu untuk itu.

SM

Advertisements

One thought on “Liqo

  1. aslm ukh, tidak ada orang yang berhak melarang kita berargumen… sebenarnya LQ itu hanyalah wahana untuk kita mencari sesuatu yang belum kt ketahui, kita boleh bertanya, menyangkal, dan menelaah pendapat atau tanggapan seorg MR. kalau ada dali berlandaskan Al-Quran atas prtanyaan kita , kt boleh percy tp kalau MR hanya mengandalkan insting ya kita telaah dl, jgn telan mentah2. jzklh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s