Pengalaman-Saya

…simple things that make me happy


Jalan-jalan ke Malioboro bersama teman kos. Pas penutupan Festival Kesenian Yogyakarta, saya dan empat orang teman kos jalan-jalan ke Benteng Vrederburg, tempat pelaksanaan FKY. Kita berjalan kaki ke sana. Bagus untuk kesehatan. Saya senang tapi ada sesuatu terjadi dalam perut. Sampai akhirnya, kita berlima memutuskan untuk balik ke tempat kos menggunakan dua becak.

Tempat kos saya yang baru ini memang nyaman. Para makhluk di dalamnya sangat bersahabat. Terakhir ini, AS, teman kos yang berasal dari NTT, berulang tahun ke-22. Aduh, usia yang masih imut banget. AS berkulit gelap, rambutnya panjang berombak, dan sangat girlie. Sejak dua hari sebelum ultahnya, dia dan beberapa teman memasak kue keju. Mereka sibuk di dapur. Kemudian pas hari H, mereka masak brownies bakar. Kemudian AS dan temannya, berkeliling kamar kos untuk membagikan kue keju, brownies bakar, dan minuman fanta (atau coca cola, tinggal pilih). Wuih, cewek banget. Saya bukan main senang dan bersemangat.

Selain ada aturan keras TAMU KOST PRIA DILARANG MASUK di garasi rumah, tempat kos ini menyediakan beberapa ruang publik yang nyaman. Ada sebuah ruang 3×3 di lantai 2 dengan karpet yang bisa dijadikan tempat ngobrol sambil lesehan. Di lantai 1 ada tiga ruang untuk ngumpul. Satu ruang di bagian garasi untuk para tamu pria bertemu dengan penghuni kos perempuan. Satu set tempat duduk dekat dengan kolam ikan dan dua buah patung angsa. Satunya lagi ada di depan dapur umum. Pengaturan yang sesuai.

Tempat kos saya ada di tempat yang strategis dan tenang. Lokasinya dekat dengan Photo Talk (tempat murah untuk cetak foto, harga promosi Rp 800 per ukuran 4R), bioskop Mataram, tempat makan apalagi, Galeria, Gramedia, Terban, Saphir Square, Toga Mas, stasiun Lempuyangan apalagi, dan bandara.

Soal bandara, saya ada kisah khusus. Saya adalah salah satu orang yang bersemangat dan sangat senang melihat pesawat dan mendengarkan deru suaranya. Di sini saya dapat mendengarkan dengan jelas jika ada pesawat yang akan mendarat atau baru lepas landas untuk tujuan tertentu. Dulu, waktu saya kecil, saya sering tidur-tiduran di teras dan memandang bebas ke langit melihat makhluk alam dan pesawat terbang tentunya. Saya sering merasa takjub dan bahagia mendengar apalagi melihat pesawat terbang begitu rendah. Di Lempuyangan, saya bahkan bisa menghitung lampu yang ada di luar pesawat! Luar biasa. Pemandangan seperti itu dapat membuat saya begitu bahagia.

Suara kereta api juga dapat menciptakan sensasi yang sama. Suatu kali, ketika saya baru pulang memperbaiki jam tangan, saya terhenti di depan palang di dekat rel kereta api di Lempuyangan. Bukannya jengkel, saya malah senang. Saya mau lihat kereta api lewat. Bahagia. Ketika saya kuliah di Depok, saya tidak merasakan hal seperti itu. Padahal sering sekali saya melihat dan mendengar suara kereta listrik mondar-mandir. Pengalaman tidak terlupakan dengan kereta api adalah ketika kecil saya kadang “mudik” ke kampung halaman orang tua di desa Waung, Tulangan, Sidoarjo. Naik kelas ekonomi tentu dan bisa tidur di lantai pakai koran atau tikar sambil kipasan dengan kipas manual.

Those are simple things that make me happy.

Lempuyangan, 21 Juli 07

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s