Anak dari Spesies yang Berbeda

Hampir tiga aku mengasuh empat kucing kecil. Tiga hari yang lalu terjadi peristiwa yang mengenaskan. Seekor kucing mati terlindas mobil ketika dia sedang buang air besar di luar rumah. Waktu itu aku berangkat ke kampus dan aku meninggalkan empat kucing kecil itu di teras yang tertutup pagar. Mereka bisa keluar rumah. Aku meninggalkan mereka di luar karena ada dua ekor yang selalu ribut jika aku biarkan mereka di dalam rumah. Aku pikir, biar mereka belajar juga hidup di luar rumah, karena dalam beberapa bulan kemungkinan aku akan melepaskan mereka.

Sekitar 3 atau 4 jam kemudian aku pulang dan kucing kecil berwarna putih itu rata alias gepeng di tanah. Mati. Tak bernyawa. Aku sempat terkejut dan bingung. Bagaimana dia bisa mati? Siapa yang menabraknya? Bagaimana menguburnya? Dikubur di mana?

Aku cek kucing-kucing lain, semua sehat dan hidup. Kucing yang mati itu memang paling aktif, paling berisik, dan cerdas. Apakah itu yang terjadi pada kucing atau makhluk hidup dengan karakter yang sama? Aku harap tidak. Kucing itu masih belum bisa melihat, sepertinya dia hanya dapat melihat gelap dan terang. Lagipula, kucing itu sedang BAB di pinggir rumahku. Jelas dia tidak bergerak kalau sedang BAB. Sepertinya sudah takdir. Mobil atau kendaraan bermotor menjadi “pemangsa” kucing karena tidak ada lagi musuh alami mereka.

Saat ini aku memelihara sisa 3 kucing lainnya. Lebih mudah mengurus mereka bertiga karena tidak terlalu menuntut dan berisik. Beberapa hari lalu, kucing dengan tubuh paling kecil berwarna hitam muntah-muntah. Kemudian muntah berganti dengan diare. Aku hampir membeli obat muntah. Lalu aku ingat, dia mulai seperti ini ketika vitamin IMBooster habis. Lalu aku beli vitamin penambah daya tahan tubuh Egoji. Harganya lumayan 38 ribu. Sudah satu hari dan kucing hitam sudah tidak muntah dan tidak diare. Mungkin daya tahannya rendah jadi harus diperkuat dengan vitamin.

Dalam dua minggu ke depan, aku akan meninggalkan mereka untuk kegiatan di luar kota. Aku masih mencari orang untuk memberi makan dan membersihkan kotoran mereka. Semoga aku bisa ketemu orang yang tepat. Mengurus 3 kucing ini cukup menguras tenaga, apalagi kalau ada yang sakit. Kadang kalau ada yang rewel, ngeong-ngeong terus aku cuekin sambil membatin, “Kids, I want to have some rest. Take care yourself!”

Belum lagi mereka semua buta dengan berbagai spektrum. Sering sekali mereka menabrak dinding, kardus, sepatu, dan segala macam. Baru saja satu kucing hitam, yang paling mungil dan sepertinya kekurangan gizi, mengeong-ngeong. Aku tengok, rupanya dia memanjat bagpack punyaku di ruang tamu. Lalu dia bingung dan takut untuk turun. Sepertinya dia takut untuk loncat karena beranggapan lantai jauh di bawahnya. Aku tepuk-tepuk lantai supaya dia tahu bahwa dia aman untuk loncat. Saudara-saudara juga datang. Akhirnya dia bisa turun sendiri. Ya Tuhan!!

Dua kucing sudah pandai untuk BAB dan buang air kecil (BAK) di bak pasir yang aku siapkan. Satu kucing hitam yang kecil itu sepertinya tidak bisa memanjat bak plastik jadi cuma satu itu yang suka BAB dan kencing di sembarang tempat. Berhubung mereka buta, mereka sering menggunakan kaki bagian depan untuk coba menyentuh atau memegang sesuatu di depan. Aku sudah membelikan satu mainan yang berbunyi supaya mereka lebih peka. Selebihnya, aku tidak tahu bagaimana mengajari kucing kecil yang buta. Aku sering bertepuk tangan atau mengetuk sesuatu yang menandakan bahwa aku ada di suatu tempat atau memanggil mereka. Sampai sekarang aku belum memberi mereka nama. Aku tidak ingin menciptakan keterikatan emosional dengan mereka yang nantinya bisa membuatku sulit melepaskan salah satu atau ketiganya.

My dear children from another species.

Bogor, 12 April 2018

Advertisements

Tempat Pembuangan Akhir

Sejak awal tinggal di Bogor, saya ingin menulis tentang hal ini tetapi terus tertunda. Tempat tinggal pertama ketika pindah ke Kabupaten Bogor adalah di Dramaga Pratama, Ciampea. Sekitar 2 Km dari Kampus IPB. Setahun kemudian saya pindah ke Ciomas Permai, lebih jauh dari kampus tapi lebih dekat ke Stasiun Bogor. Selama hampir 2 tahun tinggal di sekitar Dramaga, saya sering berpapasan atau bahkan berjalan beriringan (ciee) dengan truk sampah. Seringkali sampah yang diangkut adalah sampah rumah tangga sehingga selama perjalanan, ampas air menetes dan meninggalkan jejak dalam bentuk cairan di jalan dan bau yang tidak sedap.

Kemudian saya membaca bahwa TPA berlokasi di Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Bogor. Jadi mulai pagi sampai siang, truk pengangkut sampah hilir mudik dari kota ke Cibungbulang. Kadang saya terganggu dengan baunya tapi memang itulah bau sampah. Kalau tidak mau menghidunya, ya harus mengurangi sampah.

Saya ingin menulis tentang pengalaman ini karena saya belum pernah begitu sering menjumpai truk sampah dalam jumlah besar. Belum lagi lalu lintas ke arah Ciampea biasanya macet, atau kalau beruntung tersendat. Jadi pengguna jalan, terutama motor dan kendaraan terbuka lainnya, harus sabar menghidu aroma tidak sedap sepanjang perjalanan.

Saya takjub karena sebegitu besarnya jumlah sampah yang diproduksi. Bagi saya, sampah adalah produksi, bukan “buangan” atau sisa yang tidak terpakai. It’s massive! It’s life style!

Mengemas dan membungkus barang dianggap bagian dari perlindungan terhadap kuman, debu, dan bagian dari pelayanan. Kemudian menjadi kebiasaan sampai kadangkala penjual yang bersikeras membungkus atau memasukkan barang ke kantong plastik. Padahal pembeli sudah menolak secara halus dan kadang memberi alasan agar penjual tidak memaksa.

Teknologi pembuatan kemasan atau pembungkus juga semakin canggih. Termasuk jargon tentang pentingnya kemasan untuk menciptakan citra dan brand. Alhasil kemasan dibuat dengan sebegitu eksklusif, kadang satu barang kecil bisa dibungkus dengan kemasan yang dua sampai empat kali lebih besar dari barang.

Beberapa tahun belakangan sudah ada beberapa terobosan untuk mengurangi dan mengelola sampah dengan lebih baik. Namun, penerapannya belum luas. Perjalanan ke kampus kerap mengingatkan saya bahwa bau sampah adalah bau diri saya sendiri, bau dari perilaku saya. Here, I present you with the smell of my behavior.

Bogor, 3 April 2018

Kucing Kecil

Tidak pernah aku bayangkan akan memelihara apalagi mengadopsi kucing kecil. Beberapa bulan sebelumnya memang aku senang memberi makan kucing dewasa perempuan yang sedang bunting di dekat rumah. Aku selalu menjaga jarak supaya tidak timbul ikatan emosi antara kami berdua. Kadang aku membolehkannya untuk masuk ke rumah, sebentar saja.

Pada hari Senin, aku ke kampus untuk menghadiri ujian terbuka doktor seorang teman. Selesai makan siang, aku berniat ke mesjid bersama dua orang teman. Dua temanku memilih jalan melewati Bank Mandiri, entah kenapa aku memilih jalan yang dekat dengan kantin pascasarjana. Pada saat itulah, aku melihat seekor 4 orang anak kucing tergeletak di atas kertas koran. Hampir semuanya mengalami masalah mata yang membusuk. Aku bingung. Ada begitu banyak hal yang berkecamuk di batin.

Apakah aku satu-satunya orang yang baru melihat mereka? Apa yang harus aku lakukan? Apakah mereka masih dapat diselamatkan? Dimana orang tuanya, terutama ibunya yang mungkin masih menyusui? Apakah ada yang dapat menolong mereka? Maksudnya selain aku.

Selesai sholat, aku buru-buru ke samping tempat anak kucing tadi. Aku hanya ingin menyelamatkan penglihatan mereka. Supaya mereka bisa melihat kembali. Tentu saja. Di IPB ada rumah sakit hewan, aku coba cari di internet. Aku tidak tahu lokasinya. Masih belum ketemu, tapi sudahlah, aku bawa saja ke motor dulu. Aku cari-cari kotak bekas yang dapat aku pakai untuk membawa empat kucing kecil ini. Sampai di depan perpustakaan, aku melihat ada tukang ojek. Memang di situ salah satu tempat mangkal ojek, entah kenapa aku terkejut. Aku langsung dapat ide.

Aku bertanya ke tukang ojek jika mereka tahu poliklinik hewan di kampus. Mereka tentu saja tahu. Aku naik dan diantar ke Rumah Sakit Pendidikan Hewan (RSPH) IPB. Aku mendaftar dan menunggu sampai dokter beroperasi kembali. Ketika giliranku tiba, keempat kucing itu dikerubuti oleh lima mahasiswa kedokteran hewan. Mereka menimbang, mengukur denyut jantung, dan melihat berbagai hal lain dari setiap kucing. Setelah semua dicatat, maka masuk ke ruang periksa. Kemudian dokter dipanggil.

Semua kucingku diperiksa. Dokter mengatakan bahwa seluruh kucing terkena chlamydia dan berakibat radang mata. Karena digaruk-garuk maka semakin memburuk. Alhasil satu kucing retinanya sudah membengkak dan tidak bisa diperbaiki. Dia buta total. Tiga kucing lainnya masih ada kemungkinan untuk melihat jika dirawat dengan baik. Kemudian tim mahasiswa membuat topi leher mini dari bekas rontgen untuk dipasangkan ke tiap kucing agar mereka tidak garuk-garuk luka di mata. Selain itu, mereka diberikan obat anti cacing dan luka di mata dibersihkan. Dari hasil pemeriksaan, dua kucing jantan dan dua kucing betina. Dokter mengatakan bahwa usia mereka 2 bulan.

Dokter bertanya apakah aku akan merawat mereka. Aku mengatakan, iya. “Gila! Aku akan adopsi 4 hewan kecil ini? Why? What for? Can I?”

Pada satu sisi aku merasa heroik. Pada sisi lain, aku merasa ada kebebasan yang aku korbankan. Help! Aku teringat pada Maria Mustika. Apakah salah satu kucing tadi adalah reinkarnasi Maria. Dia sering merawat kucing yang berkebutuhan khusus.

Biaya untuk pemeriksaan dan obat empat kucing sekitar 300 ribu. Lumayan mahal ya. Makanya aku belum beli kandang besi dengan harga 200-250 ribu, cukup dari kardus. Lagipula di rumah, aku bebaskan mereka di ruang tengah. Kalau di dalam kardus, mereka akan ramai mengeong. Belum lagi tas kucing seharga 200 ribu, bekasnya pun masih mahal. Nantilah. Pantes aja orang yang punya anak keteteran dengan biaya hidup.

Aku kabari suami untuk memberitahu keputusan mengadopsi empat anak kucing. Aku sibuk mencari informasi kandang, makanan, dan keperluan pemeliharaan kucing lainnya. Aku juga harus menebus obat yang diresepkan. Tiba-tiba aku jadi super sibuk dan mengatur jadwal dengan lebih ketat. Aku juga mencari di internet tentang makanan kucing. Akhirnya aku dapat yang disukai keempatnya yaitu campuran tempe dan ikan (tongkol atau pindang).

Selain menyiapkan dan menyuapi makan untuk satu kucing paling kecil, kegiatan lainnya adalah mencuci kain tempat mereka buang air kecil, membersihkan pup, mengepel lantai tiap hari, membersihkan mata mereka dua kali sehari dengan NaCl, memberi salep ke mata, menyuapi susu, menjemur tiap pagi, mencuci perlengkapan makan yang mereka pakai, ya sepertinya itu saja. Saat ini tiga kucing masih buta, satu kucing memiliki separuh penglihatan.

Aku baru menjalani peran ini selama 6 hari. Well done! I don’t know how good or how long I can be a mother of 4 kitten. Just pray!

Bogor, 31 Maret 2018

 

 

Belitong Beauty

Minggu lalu saya dan teman-teman mengunjungi Pulau Belitung. Kunjungan ini cukup mendadak karena biasanya jika direncanakan jauh-jauh hari justru tidak terlaksana. Selain karena ingin melepas penat sehabis kolokium dan ujian kualifikasi tulis, biayanya masih terjangkau. Misalnya untuk tiket pulang-pergi kami mendapat harga Rp 679.000/orang. Itu pun jika kami mau membeli lebih cepat, kami bisa dapat harga Rp 600.000/orang. Untuk biaya pemandu dari agen travel kami mendapat harga Rp 800.000/orang. Semakin banyak orang yang ikut, biasanya semakin murah. Itu juga tergantung dengan fasilitas yang diminta pengunjung. Paket dengan harga tadi khusus untuk 3 hari 2 malam.

Kekhawatiran awal adalah cuaca karena di bulan Maret ini masih sering turun hujan. Alhamdulilah selama perjalanan ke pantai dan ke beberapa tempat, tidak turun hujan. Hujan biasanya turun pagi-pagi sekali atau sore ketika perjalanan sudah hampir selesai. Di pagi sampai siang hari cuaca cenderung panas, bahkan terasa menyengat kulit.

Perjalanan udara dari Jakarta ke Belitung memakan waktu sekitar 50 menit. Agen travel yaitu Visit Belitong sudah menunggu di Bandara H. AS Hanadjoedin. Kami langsung menuju kota di Tanjung Pandan menggunakan mobil yang sangat nyaman dan dapat memuat sampai 11 orang. Kami makan pagi di WanBie dengan menu mie khas Belitung. Dalam perjalanan, pemandu memberi informasi bahwa di Belitung tidak ada waralaba supermarket seperti Alfamart dan Indomaret, tidak ada mal besar, dan tidak ada angkutan umum kecuali bus dari bandara.

Hari pertama diisi dengan mengunjungi berbagai pulau menggunakan perahu nelayan. Ada Pantai Tanjung Kelayang, Pulau Pasir, Pulau Batu Berlayar, Pulau Lengkuas, Pulau Kepayang, Pantai Tanjung Kelayang, dan Pantai Tanjung Tinggi. Snorkeling dilakukan di sekitar Pantai Lengkuas. Bagi orang yang belum pernah snorkeling, perlu kalem alias tidak terburu-buru atau bernafsu mencoba, terutama kalau tidak bisa berenang. Pemandu memang mengatakan bahwa kita tidak akan tenggelam tetapi secaraa psikis pasti ada ketakutan. Biasakan diri dengan lingkungan dan jika bukan anak pantai, sebaiknya menggunakan pakaian lengan panjang karena kombinasi air laut dan terik matahari membuat kulit agak perih.

IMG_0818-

Berhubung makanan di pulau mahal maka pemandu sudah mengusulkan untuk membawa makanan dari kota ke pulau. Kami sendiri sudah siap dengan bekal. Sangat disarankan jika membawa makanan dari daratan ke pulau maka sampah juga dibawa kembali ke daratan karena di pulau tidak ada pembuangan akhir. Ada kemungkinan sampah akan dibuang ke lautan, dimakan ikan, dan kita akan makan ikan yang memakan sampah yang kita buang. Kalau memang kita dan keluarga siap makan sampah sendiri, ya tidak apa-apa.

Pemandu sangat sigap dan menyiapkan kamera go pro untuk mendokumentasikan kegiatan. Dia juga akan mengarahkan gaya kami. Layanan yang diberikan memuaskan. Hari pertama ini cukup melelahkan karena banyak pulau yang dikunjungi. Selain itu, menaiki batu-batu besar dan menelusuri pulau-pulau kecil bukan perkara mudah, terutama bagi orang yang berumur. Artinya perlu menyiapkan fisik dan jika ada anggota tim yang lebih cepat lelah, maka orang tersebut tidak perlu memaksakan diri dan dapat menunggu di balai dekat pantai.

Di hari pertama itu kami juga mengunjungi pusat oleh-oleh sebelum istirahat ke penginapan. Kami menginap di Mustika Dua. Lokasinya berdekatan dengan ATM BCA dan Mandiri, ada juga apotek. Kamar jenis family lebih besar dan lebih nyaman. Koneksi internetnya cepat dan hotel bersih. Makan pagi seadanya, hanya satu jenis makanan misalnya mie goreng atau nasi goreng. Air putih galon dengan dispenser panas-normal disediakan di lobi bersama gula dan teh. Bagi yang ingin laundry, biayanya Rp 16.000/kilo (basah). Jika cuaca panas, sebaiknya dijemur di depan hotel karena mereka menyediakan satu jemuran kecil di luar.

Hari kedua, kami mengunjungi replika SD Muhammadiyah yang menjadi lokasi film Laskar Pelangi, kemudian ke rumah keong, museum kata Andrea Hirata (hanya di bagian depan karena tiket masuknya mahal), kampung Ahok, ke Manggar untuk makan siang, Vihara Dewi Kwan In, dan melihat sunset. Selama perjalanan, pemandu aktif menjelaskan kondisi desa yang dilalui. Ada banyak kemiripan dengan desa-desa di Sumatera pada umumnya. Bahkan seorang teman mengatakan hampir mirip dengan desanya di Palopo, Sulawesi Selatan.

Pertambangan timah masih ada tapi tidak sebesar pada masa kolonial Belanda dan di masa Orde Baru. Ada banyak bekas galian tambang yang berserakan. Sebagian tanah ditinggal tanpa ditutup atau diratakan kembali. Sudah banyak pohon kelapa sawit di kanan kiri jalan melengkapi komoditas lokal yaitu lada. Sektor pariwisata semakin berkembang sejak buku Laskar Pelangi menjadi terkenal. Potensi pantai di Belitung semakin banyak dikunjungi. Pantainya memang indah, bebatuannya saja sangat indah. Layak untuk dikunjungi.

Hari ketiga, kami diajak berkeliling kota. Tadinya mau ke museum tapi sayang belum buka. Akhirnya kami makan mie lagi di WanBie sebelum ke rumah adat dan Danau Kaolin dan ke bandara.

Selama dua hari itu, pihak travel menyediakan botol air mineral 1 kali (600ml) sehingga pengunjung perlu menyiapkan air minum tambahan sendiri. Makan siang dan malam, dan tips pemandu di luar harga paket. Perjalanan ke Belitung sangat berharga, apalagi kalau dilakukan dengan rombongan ukuran sedang. Silakan dicoba sendiri.

Bogor, 19 Maret 2018

 

Hijau di Sarongge

Dulu saya pikir Sarongge itu nama suatu tempat di Nusa Tenggara. Rupanya tempat itu berada di Jawa Barat. Ketika saya baru pindah ke Bogor, saya pun diajak suami untuk mengunjungi Kampung Sarongge. Suami saya nekat naik motor selama lebih dari 3 jam pada akhir pekan ke sana.

Waktu itu saya tidak siap dengan pakaian dingin meskipun sudah bawa jaket. Kami berdua menginap satu malam di saung Sarongge. Pada saat yang sama kondisi badan kurang sehat. Alhasil alergi dingin kumat, saya tidak bisa tidur semalaman karena terus bersin dan ingus terus mengalir. Saya hanya bawa obat diare, tidak bawa anti histamin. Saya tidak bisa benar-benar menikmati keindahan alam Kampung Sarongge.

Setahun kemudian, saya mendapat tugas melakukan penelitian mini. Berhubung tema saya tentang agrowisata, saya mencari lokasi agrowisata yang dikelola masyarakat dan sudah saya kenal. Pilihan jatuh ke Kampung Sarongge di Desa Ciputri, Cianjur. Jauh memang tapi saya menikmatinya karena sekaligus berlibur.

Saya sempat melakukan wawancara ke beberapa pengelola Saung Sarongge dan belajar tentang sejarah mereka. Mungkin saya sempat 5 kali bolak-balik ke sana. Saya juga sempat menginap 1 malam di rumah penduduk dan hawanya lebih hangat daripada menginap di saung. Untuk menghindari kemacetan, saya biasanya ke Saung Sarongge pada hari-hari kerja. Perjalanan dari Bogor ke Saung Sarongge sekitar 2,5 jam. Biasanya perjalanan pulang yang makan waktu lebih lama. Kalau macet bisa sampai 5-6 jam.

Selain kemacetan, hambatan lain perjalanan ke sana adalah kondisi jalan. Pada waktu saya berkunjung, sudah ada perbaikan jalan sehingga saat ini lebih baik. Biasanya saya naik bus putih Marita dari pintu tol Ciawi menuju Cianjur kemudian turun di SPBU dekat pintu masuk Desa Ciputri. Kemudian naik ojek dengan tarif antara 15-20 ribu sekali jalan. Dalam perjalanan menuju saung, pengunjung akan melewati Pusat Pengembangan Agribisnis Holtikultura atau Agribusiness Development Center (ADC) yang dikelola IPB di Desa Pasir Sarongge. Dari informasi yang saya dengar, ADC tersebut tidak banyak berkembang dan banyak fasilitas yang rusak.

Pengunjung juga akan melewati Sarongge Valley, agrowisata yang dikelola oleh perusahaan perkebunan. Fasilitas penginapan di sana lebih modern, sementara di saung lebih sederhana dan alami. Terus ke atas sampai menemukan saung yang luas.

Kesan saya sejauh ini sangat positif. Saung ini sangat menyenangkan dan yang paling penting dikelola oleh masyarakat dengan pendampingan dari sebuah LSM yang berada di Jakarta. Saung Sarongge menawarkan paket trekking ke hutan (kawasan konservasi) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, belajar pertanian organik, mengunjungi peternakan kambing yang ada di wilayah saung, dan belajar membuat sabun sereh. Harganya sangat terjangkau, terutama jika dalam rombongan besar bisa jadi lebih murah.

Pengunjung bisa memilih untuk menginap atau hanya berkunjung seharian. Lebih baik untuk memilih waktu di luar musim hujan. Paket wisata pendidikan lingkungan juga tersedia bagi sekolah dan saung sudah memiliki beberapa pelanggan. Agrowisata Sarongge ini dikelola oleh Koperasi Sugih Makmur dan sebagian warga menyediakan rumahnya sebagai homestay.

Agrowisata Sarongge memberi alternatif penghasilan bagi warga di Kampung Sarongge. Kebanyakan pengelola adalah anak muda kampung yang sebagian telah mendapatkan pelatihan sehingga lebih berani berkomunikasi dan terbuka untuk mencoba berbagai hal baru yang dapat mendukung pemasaran agrowisata. Keterbukaan warga kampung terhadap dunia luar diharapkan membuka mata masyarakat perkotaan (non petani) untuk belajar tentang pertanian dan menghargai kualitas bahan makanan yang biasanya sampai di pasar dengan bersih dan siap diolah.

Ada banyak hal yang dapat dipelajari dari berkunjung ke agrowisata. Sebagian masyarakat kota merasa jenuh dengan taman bermain sehingga keberadaan agrowisata semakin populer. Saat ini sudah ada beberapa agrowisata yang dikelola oleh swasta yang kadang lokasinya lebih mudah diakses dari kota. Kekhasan dari agrowisata yang dikelola oleh masyarakat adalah keuntungan dirasakan langsung oleh masyarakat dan mendorong desa untuk terlibat dalam pengembangan wisata melalui BUMDes.

Kenangan yang berkesan adalah ngobrol dengan pengelola agrowisata Saung Sarongge dan mendengar cerita mereka. Saya senang mendengar cerita dan merasakan pasang surut yang dialami setiap orang. Jika perlu tempat beristirahat dan melepas pandangan secara bebas, saya tidak ragu merekomendasikan Saung Sarongge. Bagi yang ingin berkunjung silakan menghubungi Ibu Wiwik sebagai pengelola di 087721454716.

Bogor, 28 Februari 2018

-Anak-

Anak punya berbagai makna. Misalnya makna sebagai manusia yang belum lahir atau yang baru lahir, atau orang muda antara bayi dan remaja.  Bisa juga diartikan sebagai  keturunan dari orang tua atau seseorang. Bisa juga berarti seseorang yang sangat dipengaruhi oleh orang lain atau lingkungan tertentu. Makna lain adalah sebuah produk atau hasil dari sebuah usaha (https://www.merriam-webster.com/dictionary/child).

Dari makna tersebut, anak bisa muncul dalam berbagai bentuk. Jika ditilik lebih jauh dari makna harfiah, maka secara garis besar, anak merupakan keturunan dari sebuah upaya prokreasi jiwa dan raga. Hasilnya bisa beragam. Pekerjaan yang seseorang lakukan untuk keberlangsungan hidup keluarga atau dilakukan demi kepuasan jiwa merupakan anak dari orang tersebut. Karya seorang seniman atau akademisi adalah anak yang akan ditimang dan dibanggakan.

Dengan pemahaman yang luas seperti di atas, posisi kerja dan keluarga tidak perlu diposisikan berlawanan. Sistem ekonomi yang banyak berlaku di berbagai negara modern melihat keluarga dan pekerjaan profesional sebagai dua hal yang tidak harmonis. Hal ini diperkuat lagi oleh pemuka agama yang sering memberi nasihat tentang peran gender dalam keluarga, menekankan tanggung jawab istri sebagai ibu yang merawat generasi depan lebih penting daripada bekerja di ruang publik. Pemuka ekonomi modern dan cenderung kapitalistik senang sekali dengan pemuka agama yang berpikir seperti ini. Hasilnya adalah penghasilan perempuan di banyak profesi lebih kecil dibandingkan laki-laki. Sebagian perempuan yang menikah juga meninggalkan pekerjaan di ruang publik untuk bekerja di ruang domestik, dengan berbagai alasan yang diciptakan oleh sistem. Pilihan bagi perempuan sudah dikondisikan. Cara pandang perempuan juga jauh lebih terkondisikan. Alhasil, lengkap sudah internalisasi nilai untuk mendukung suatu sistem.

Jika dalam proses perjalanan hidup sebagai dewasa seseorang tidak pernah bertanya secara kritis tentang apa dan mengapa dia melakukan atau meyakini sesuatu hal, dapat dipastikan seseorang itu menjalani hidup dengan buta. Bertanya adalah awal dari upaya mereproduksi anak. “Kenapa kamu punya anak?” “Karena saya  sudah menikah dan sudah berhubungan seks dengan pasangan.” “Hmmm.”

Membesarkan anak dari suatu konsep sampai menjadi wujud secara biologis dianggap sebagai hukum alam. Bagi yang percaya dengan kekuatan gaib (Tuhan), hal itu menjadi sesuatu yang cukup diterima. Bagi sebagian lain, “proses kejadian” tersebut perlu dipelajari dan belum semuanya dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Anak dapat dibentuk sampai pada suatu tahap. Kemudian dia akan menjadi milik dirinya sendiri dan milik masyarakat. Kesenangan mempunyai anak tidak sebatas pada kelucuan yang muncul dari keluguan dan sebagai sebuah ide memiliki jangkauan operasional yang luas. Namun, kesenangan lainnya muncul dari kekuasaan “membentuk” pemikiran dan sikap seorang makhluk hidup sehingga mendapatkan “pengikut”. Ada yang memperhalusnya dengan istilah “regenerasi”.

Anak adalah sosok yang kritis. Semua yang ada di sekelilingnya adalah keajaiban. Tanpa dia sadari, dirinya sendiri adalah keajaiban. Keajaiban tersebut perlahan memudar dan menjadi biasa alias “terima sajalah”.

10 Februari 2018

Daftar Jurnal Penyuluhan

Saya membuat daftar penyuluhan ini untuk memudahkan menemukan kembali informasi terkait penyuluhan.