Memperpanjang nyawa kucing

Seekor kucing mati lagi dengan cara yang sama dengan dua kucing sebelumnya yaitu terlindas mobil. Aku sampai pada kesimpulan bahwa aku tidak bisa menjadi adopter ideal. Menyekap anak kucing yang sangat aktif dan punya rasa ingin tahu yang tinggi sama dengan menyekap aku juga di dalam rumah. Aku sendiri pada dasarnya tidak suka dengan bau kucing apalagi kalau tidak ada sirkulasi udara yang baik. Membiarkan anak kucing di jalan juga bukan cara yang bijak meskipun sedang tidak ramai. The giant wheel of vehicles don’t discriminate. Everything small will be crushed.

Saat ini sisa satu ekor anak kucing yang paling kecil, jarang keluar dari pagar rumah dan cenderung introvert. Ikatan emosi dengan satu anak ini lebih besar dari yang lain.

Minggu lalu, aku menemukan dua ekor anak kucing baru lahir. Aku mencoba memberi susu formula anak kucing tetapi hanya satu yang mau minum. Tidak ada indukan di sekitar tempat itu. Berdasarkan pengalaman, aku tidak bisa mengadopsi kedua anak itu. Salah satu kucing sepertinya sudah sekarat. Aku juga merasa tidak mampu merawat karena aku pernah mengadopsi 4 dan hanya sisa 1 yang masih hidup. Jadi kalaupun aku adopsi kucing ini, ada kemungkinan masa hidupnya hanya bertambah beberapa bulan sebelum mati seperti anak kucing yang pernah aku rawat.

Mudik kali ini, aku meninggalkan kucing hitam kecil itu ke keluarga yang lain. Anak bungsu tidak menyukai kucing dan ibunya merasa khawatir dengan penyakit di mata kucing. Semoga dia masih hidup pada saat aku kembali.

Pandaan, 9 Juni 2018

Advertisements

Sajadah yang dikencingi kucing

Aku bingung memberi nama pada kedua kucingku. Ada rasa khawatir bahwa ketika aku memberi mereka nama maka aku mulai “memanusiakan” mereka dan mulai ada ikatan emosi yang semakin kuat. Pada akhirnya aku menamai mereka Klenting Kuning dan Klenting Hitam sesuai dengan warna bulu mereka. Jadi nama mereka “tidak terlalu manusia”.

Keduanya kadang menemukan kesempatan untuk masuk ke kamar tidur lalu bermain dengan sajadah. Mereka senang sekali bermain-main dengan sajadah, terutama rumbai yang ada di ujung sajadah. Mungkin ada sensasi berbeda di mulut dan kulit mereka. Bulu mereka menempel di sajadah sehingga akhirnya aku bawa sajadah itu keluar supaya mereka gunakan sebagai alas tidur. Tidak lama, sajadah itupun dikencingi oleh salah satu atau keduanya.

Aku baru mengetahui ini belakangan. Lalu aku merendam sajadah tadi. Sejenak aku tertegun. Warna air rendaman sangat keruh. Seingatku, belum pernah sajadah ini aku cuci. Begitu juga dengan sajadah yang lain. Jika tidak dikencingi kucing, sajadah ini mungkin selamanya tidak akan dicuci. Biyuh, begitu rupanya.

Kadang sesuatu yang dirusak kucing membuat aku kesal. Padahal kalau tidak rusak, mungkin aku tidak tahu kalau aku punya barang tersebut. Ya, aku jadi belajar. Kedua kucing ini memang hebat. Dia menginspirasiku untuk tertarik membaca tentang beberapa rescuer dan penampungan hewan yang ada di beberapa tempat. Tanpa mereka, aku mungkin tidak akan menghargai apa yang sudah aku miliki.

Bogor, 25 Mei 2018

 

Media sosial yang tidak mendorong kehidupan sosial

Hubunganku dengan media sosial, sambung putus. Namanya teknologi digital, seringkali hanya romantisme sesaat. Dulu pernah keluar dari Facebook. Kemudian aku membuat akun di Line, Instagram, Path. Aku masih terus memakai Twitter. Untuk komunikasi langsung, aku punya aplikasi SMS bawaan HP, Telegram, Whatsapp, dan Signal. Sekarang aku mulai menutup lagi akun Facebook. Awalnya merasa terganggu dengan keamanan dan privasi. Lalu aku belajar bahwa dengan menutup akun, bukan berarti informasiku tidak dapat ditemukan. Alasanku sekarang adalah waktu untuk mengelola atau sekadar mengintip isi media sosial tersebut.

Line sudah aku hapus terlebih dulu. Path tidak pernah aku pakai lagi. Alhasil hanya Twitter dan Instagram. Toko daring juga aku batasi, terutama yang jarang aku pakai. Aku rasa durasi paling banyak aku habiskan untuk mencari jurnal atau informasi yang berhubungan dengan perkuliahan dan untuk belanja daring. Seringkali aku hanya suka melihat produk yang dijual, kualitas produk, dan membandingkan harga. Sekadar mengetahui bahwa produk F lebih bagus dari D dan produk K lebih murah dari J sudah ada rasa puas.

Aku juga merasa terlalu banyak grup di instant messenger tidak efektif. Apalagi kalau aku hanya sebagai peserta pasif dan aku tidak mendapat “keuntungan” dari grup tersebut. Seringkali aku mendapat 1 pesan, baik gambar atau video, yang sama. Ibaratnya orang begitu mudah meneruskan informasi ke orang atau grup lain. Orang juga mudah termotivasi dengan kalimat, “sebarkanlah informasi ini ke umat atau muslim lain dan seterusnya”. Aku juga pernah termakan dengan “rayuan” macam ini. Sukurlah, sekarang aku berusaha menahan diri.

Seorang teman kerja sampai sekarang tidak memiliki smartphone. Ini pilihannya dan tempat dia bekerja tidak memaksanya untuk memiliki smartphone karena dia menggunakan Facebook dan Gmail sehingga berkomunikasi menggunakan kedua aplikasi tersebut.

Menahan diri untuk tidak bermedia sosial secara berlebihan mungkin menjadi tema tahun 2018 ini. Sangat tidak mudah tapi dengan semakin kuat tuntutan untuk segera lulus kuliah, insyaallah aku bisa melakukannya.

Bogor, 24 Mei 2018

Gaji gue segini, gaji elu berapa?

Aku pernah bekerja di sebuah LSM yang sekretariatnya berada di Jakarta. Aku bekerja jarak jauh. Tipikal lembaga dengan mimpi besar dan anggaran terbatas. Lagipula tren bekerja di masa depan, waktu itu aku mulai tahun 2008, lebih menekankan pengorganisasian secara virtual. Belakangan ini ada rencana untuk merekrut pekerja. Ada sebagian orang yang menyebutnya pekarya, tapi bagiku dengan menyebut pekerja bukan berarti mengurangi nilai aktivisme tapi menekankan bahwa berada di LSM berarti kamu bekerja dan perlu dihargai secara profesional seperti layaknya pekerja.

Aku penasaran dengan gaji yang diharapkan dan menjadi standar di kalangan anak muda milenial. Sebagai informasi awal, UMP atau UMR DKI Jakarta 2018 yaitu Rp3.648.035 (www.goukm.id). Kenaikan per tahun adalah 8,71 persen. Oke, lanjut ke realita. Uang 3,6 juta untuk hidup di Jakarta masih dalam kategori pas-pasan, tergantung pada jumlah anggota keluarga, lokasi tempat tinggal, usia (pendidikan) anggota keluarga, pajak penghasilan, moda transportasi, dan biaya kesehatan. Masih banyak yang bisa ditambahkan.

Lalu aku bertanya ke beberapa anak milenial yang lahir tahun 1980an. Lelaki muda ini berusia 27 tahun dan setelah lulus kuliah tahun 2015, dia bekerja di sebuah LSM di Jakarta. Gaji awalnya adalah 4,5 juta, diberikan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, setiap tahun ada kenaikan sesuai kinerja. Dia tidak menyebutkan berapa kenaikannya. Perkiraanku tahun 2018 ini dia sudah mendapat sekitar 5 juta/bulan. Biaya hidupnya cukup mahal karena dia memilih tinggal di pusat kota yang dekat dengan tempat kerja. Untuk kos saja dia menghabiskan 1,2 juta/bulan.

Selanjutnya, seorang perempuan muda yang tinggal di Bogor dan bekerja di Jakarta. Usianya 24 tahun dan sudah bekerja di sebuah perusahaan komunikasi digital. Gajinya 4,6 juta/bulan, plus BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Dia pernah kos di Jakarta karena perjalanan Bogor-Jakarta memakan waktu dan energi. Tetapi biaya hidup yang besar (baca: biaya kos mahal), maka dia kembali ke rumah. Meskipun dia menyukai pekerjaan dan tempat kerjanya, dia masih mencari kesempatan di tempat lain dengan bayaran yang lebih tinggi.

Terakhir adalah seorang perempuan berusia 26 tahun dan perantau dari Sumatera Utara. Saat ini dia sedang menempuh pendidikan magister di sebuah perguruan tinggi dengan dukungan orang tua. Aku melihatnya sebagai orang yang cerdas, asertif, selera humor yang tinggi, cukup percaya diri, dan mudah bergaul. Aku mengenalkannya dengan sebuah LSM yang ada di Sumatera Utara, tempat aku pernah bekerja. Jika dia kembali ke tempat tinggalnya, mungkin dia berminat bekerja di LSM ini. Rupanya dia punya pertimbangan lain. Dia mengatakan, “Bukannya aku tidak tertarik di LSM kak, tapi bagaimana dengan kondisi dan keamanan kerja? Dari sisi gaji, tunjangan, dan lain-lain.” Sebagai seorang anak yang masih dibiayai orang tua, dia merasa berkewajiban untuk memberikan sebagian penghasilan ke orang tua. Biaya kuliah magister per semester saja habis 9 juta, belum termasuk biaya hidup dan biaya perkuliahan lainnya. Setiap anak pasti merasa punya panggilan untuk menyenangkan dan membanggakan orang tua mereka. Apalagi kalau orang tersebut adalah pencari nafkah utama keluarga.

Ketika aku survei di internet, ada beberapa artikel yang membahas tentang tuntutan keluarga, tekanan biaya hidup, dan kegundahan orang muda untuk dapat hidup layak. Seorang perempuan muda dengan penghasilan 3 juta/bulan di Jakarta masih harus dibantu orang tuanya untuk hidup layak. Bahkan ada ejekan bahwa biaya kuliah per semester lebih besar dibanding gaji.

Aku ingat pernah beberapa kali membahas hal ini dengan almarhum Maria. Bukan salah orang muda jika mereka mencari dan berpindah kerja untuk mendapatkan gaji yang lebih layak dan kondisi kerja yang lebih baik. Biaya pendidikan dan biaya hidup sangat tinggi. LSM tempatku bekerja akan sulit mendapatkan pekerja jika menggunakan teknik rekrutmen tradisional. Mungkin orang dengan keingintahuan yang tinggi, kelas menengah, dan memiliki ikatan personal dengan isu sosial yang mau dan mampu bekerja di LSM nasional atau lokal.

Namun itu juga bukan berarti ketika seseorang mengangkat dan mempertanyakan isu gaji di LSM kemudian dirundung habis-habisan dan dipertanyakan loyalitasnya. Aku sendiri lulusan magister dengan gaji terakhir 3 juta/bulan dan tidak ada kenaikan selama hampir 4 tahun. Ketika aku mendapat beasiswa dari negara untuk kuliah doktoral dua tahun silam, aku baru mendapatkan kenaikan. Tentunya kenaikan dari lembaga pemberi beasiswa, bukan lembaga. Namun, aku melihat keduanya saling berhubungan. Ya, apalah hari gini yang tidak berhubungan?

Akhir kata, aku berdoa agar lembagaku diberkati sehingga dapat memberikan kompensasi yang layak, mendapatkan pekerja yang berkualitas baik, dan memelihara gerakan sosial yang sudah dimulai. Amin.

Bogor, 10 Mei 2018

The continuum of powerless to powerful

So, I never thought adopting 4 kittens will get me this far. I learn more about the continuum of powerless to powerful from them. Today those 4 only 2 because the other 2 were dead. I was a tired and careless caregiver. I let the 4 of them to have innocent fun that would cause their lives. After 2 deaths, I became more protective. I don’t have much money to add fiber to my fence. I rent a small 60m house that I share with my husband who doesn’t like cats. The air circulation is not good. With all the limitation, I work the best I could to accommodate everyone.

At first, my good intention and mission to “save” the kittens are failed. I found them very sick and all by themselves, no parents. I thought, I want to heal them so they can eventually live by themselves. That was the idea. Two of the kittens may have better eyesight and they were stronger, more active, and ready to take challenges. Well, they were dead. Leaving the other two who I thought less fit, more vulnerable, and have no  future. So my view about the “survival of the fittest” didn’t hold the ground. Or at least, I began to question, what is fit? The physical fit, emotional and sociological fit? The attitude fit?

The second is about self-care. There is a moment where taking care of others drain one physically and hurt emotional sanity. It’s so true. However, at the same time I feel I am taking care of myself. I curb my ego. It’s tricky because it may stem from feeling  powerful over these powerless kitten. I want them to become powerful to take care for themselves so I don’t need to take care of them.

The feeling that someone powerlessness feed my power is a bit scary. I may loose control. I learn about the continuum of powerless to powerful which is very vulnerable. I feel powerful to take care those in need. I became more sensitive to my power and others’ powerlessness.

When two of the kitten were dead, I felt powerless. Then I told myself, you are the adult, you have to take in-charge, you are in control. Close the doors and windows, protect them; it’s for their own sake.

It reminds me of the famous Mother Theresa. She looked frail and the people she taking care were powerless people but that is the powerful of her.

I don’t know how this “new” understanding help me in my activism. It surely changed me.

Kematian anak kucing

Kalau anak kucing diibaratkan anak manusia. Aku mungkin orang tua yang gagal menjaga anaknya tetap hidup. Kemarin malam, seorang anak kucing yang aku adopsi mati lagi. Caranya sama dengan anak kucing sebelumnya, yaitu terlindas mobil. Memang benar yang dikatakan seorang teman, kucing tidak lagi punya musuh alami. Musuhnya sekarang adalah kendaraan yang dikendalikan manusia. Kedua anak kucing yang mati ini adalah kucing yang masih punya sedikit penglihatan. Dua anak kucing yang masih hidup justru yang tidak dapat melihat. Aku tidak mengatakan bahwa kedua anak kucing buta ini tidak berani mengambil risiko. Mereka mungkin jauh lebih berhati-hati.

Aku berusaha meyakinkan diri bahwa tidak ada yang salah. Penabrak, tetanggaku sendiri, tidak salah karena jalan perumahan adalah jalan umum. Anak kucing tentunya tidak salah karena memiliki rasa ingin tahu untuk bermain keluar pagar adalah satu hal yang alami. Kedua anak kucing yang mati adalah dua kucing yang aktif dan punya kemampuan motorik lebih baik dari dua lainnya yang masih hidup. Dua anak yang mati tadi bisa melompati pagar kardus, melompati jendela yang rendah, dan naik ke tangga sementara dua lainnya hanya mengamati lewat pendengaran.

Aku belum menutup celah pagar depan dengan fiber karena selain belum punya dana, suamiku ingin udara tetap masuk. Dana belanja kami sendiri sudah dialokasikan untuk membeli pasir gumpal, makanan kucing, susu, obat, vitamin, dan shampoo anti kutu. Menurutku itu prioritas, terutama karena salah satu kucing sangat lemah dan kadang muntah-muntah.

Kemarin, kucing yang lemah itu sulit makan dan muntah-muntah. Aku berpikir, sepertinya kucing ini akan mati. Dia paling lemah, paling kecil, bulunya paling jarang, di antara yang lain. Rupanya dia masih hidup, masih bertahan dengan caranya sendiri. Aku salut dan kadang heran. Selama ini yang sering aku dengar adalah frase “survival of the fittest” dan dua anak kucing ini bukan yang “paling kuat” atau “paling cerdas”. Mungkin mereka yang paling berhitung dengan risiko dan penuh pertimbangan.

Entahlah. Mereka hidup dan aku ingin merayakannya.

Bogor, 6 Mei 2018.

Mandiri ala Milenial

Tulisan ini bukan tentang Bank Mandiri atau nama perusahaan lain dengan nama mandiri tapi tentang sebuah tujuan. Dalam ilmu penyuluhan, kemandirian dapat terjadi jika ada kepemimpinan dan kelembagaan yang kuat, akses terhadap sumber daya, dan mampu mengelola sumber daya secara berkelanjutan. Kemandirian yang aku pahami  tidak hanya bebas dari tekanan atau mampu melakukan seluruh kegiatan sendiri tetapi lebih dari itu sebuah kondisi seseorang atau sebuah lembaga yang mampu memotivasi dan mengatur diri sendiri untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. Mandiri juga berarti mampu bekerjasama dengan orang lain sesuai dengan kemampuan yang dimiliki alias interdependency. Dengan saling mengandalkan keberadaan kita dengan yang lain, tidak ada yang dinihilkan, lebih tinggi satu dari yang lain.

Aku berusaha mewujudkan kondisi itu dengan berwirausaha baik secara sosial maupun profit. Aku merasa lebih nyaman berusaha sendiri dari awal, dengan modal yang ada dan mengembangkannya. Aku punya keleluasaan dan kekuasaan. Tidak harus mencari “muka” dengan bermain drama dan bersaing untuk mendapatkan wewenang lebih besar. Aku belajar untuk bersaing dengan mengamati apa yang orang atau usaha lain lakukan kemudian memutuskan, mana yang sesuai dan mampu dilakukan oleh tim. Bongkar pasang tim sudah biasa terjadi. Anggota tim juga mencari kecocokan dengan usaha dan individu di dalam usaha. Kecocokan 100% mustahil dicapai tapi paling tidak masing-masing mencari kondisi yang dapat mereka toleransi dan rekayasa agar mereka masih nyaman bekerja.

Menjadi seorang pekerja di sebuah lembaga, perlu menimbang berbagai pendapat dan perasaan orang lain. Seringkali orang yang punya andil atau saham lebih besar merasa suaranya yang perlu lebih didengar. Kadangkala sebuah organisasi ingin dipimpin oleh perempuan muda tapi pada saat yang sama kurang memperhitungkan atau bahkan mengecam cara bekerja, visi, dan perilaku berkomunikasi perempuan milenial. Bukan tidak mungkin ide atau cara kerja yang berbeda dianggap sebagai pembangkangan. Bukan tidak mungkin juga ketika menemukan satu yang cocok, maka orang tersebut dijadikan anak emas sehingga diminta terus memimpin selama sekian lama. Ada konsekuensi ketika seseorang dari suatu era yang berbeda menjadi pemimpin. Ada bagian dari karakter pemimpin sebelumnya yang bisa ditumbuhkan di diri pemimpin baru tapi tetap punya nuansa berbeda. Kadangkala perbedaan menangani suatu pekerjaan menjadi masalah.

Kalau dirunut berdasarkan tahun kelahiran, aku tidak termasuk generasi milenial tapi generasi X. Selain terkait penamaan ikut berpengaruh juga dengan jenis perangkat komunikasi, isu sosial politik, dan budaya yang berkembang pada era tersebut. Contoh sederhana adalah belakangan aku sering tidak membawa buku catatan dan lebih memilih mengetik di ponsel atau kadang merekam obrolan untuk didengarkan kemudian lalu dihapus. Orang yang tidak tahu atau tidak paham dengan cara ini bisa jadi berpikir bahwa ketika dia berbicara, aku justru kirim WA atau SMS ke orang lain. Jadi konsentrasiku terpecah, padahal aku mendengarkan dan mencatat apa yang dibicarakan. Aku sendiri pernah membuat asumsi salah seperti itu. Ketika aku bicara, temanku, generasi milenial, membuka aplikasi powerpoint dan mengetik. Aku pikir, “aku ngomong, dia malah bikin presentasi.” Rupanya dia mencatat apa yang aku sampaikan tapi dia lebih suka mencatat pointer di powerpoint agar bisa langsung diolah.

Aku jadi berpikir bahwa apakah mungkin cara setiap generasi melihat “relasi kekuasaan” dan “sebuah hubungan organisasional” juga berbeda dari generasi sebelumnya. Aku pernah membaca bahwa generasi milenial tidak melihat loyalitas sebagai suatu hal yang penting dalam bekerja. Mungkin cara milenial melihat kemandirian juga berbeda. Ketika kita bekerja dengan orang dari generasi yang berbeda, mungkin asumsi kita tentang “bekerja” dan “bermain” juga perlu mengakomodasi cara yang berbeda. Prinsip atau nilai dapat ditumbuhkan tapi cara mengaplikasikannya bisa jadi berbeda.

Bogor, 26 April 2018